Orang-orang Chinchorro lantas mengisi jasad dengan serat-serat alami serta ranting untuk menegakkannya sebelum menggunakan ilalang untuk menjahit kulit.
Mereka juga memasang rambut hitam tebal di bagian kepala mumi dan menutupi wajahnya dengan tanah liat serta topeng. Lubang lalu dibuat pada bagian mata dan mulut.
Akhirnya, jasad dilukis dengan warna merah atau hitam menggunakan pigmen dari mineral, oker, mangan, dan besi oksida.
Metode dan pendekatan mumifikasi orang-orang Chinchorro amat berbeda dengan teknik yang digunakan bangsa Mesir kuno, kata Arriaza.
Letak perbedaannya, bangsa Mesir melakukan mumifikasi untuk kaum elite yang meninggal dunia. Sedangkan orang-orang Chinchorro memumifikasi para pria, perempuan, anak, bayi, hingga janin terlepas dari status mereka.
Keberadaan ratusan mumi di Arica dan lokasi lain tidak menggentarkan penduduk setempat. Mereka justru hidup berdampingan, dan bahkan di atas para jenazah.
Menemukan sisa-sisa jenazah saat membangun rumah atau ada anjing yang tak sengaja menggali tanah tempat mumi berada merupakan pengalaman sehari-hari penduduk setempat selama bergenerasi-generasi. Hanya saja, mereka baru menyadari betapa berharganya para jenazah itu.
"Kadangkala warga menceritakan kepada kami tentang anak mereka yang menggunakan tengkorak untuk bola sepak dan mengambil pakaian mumi. Tapi sekarang mereka paham untuk melaporkan ke kami ketika mereka menemukan sesuatu dan tidak diutak-atik," kata arkeolog, Janinna Campos Fuentes.
Dua warga setempat, Ana María Nieto dan Paola Pimentel, bahagia Unesco mengakui betapa pentingnya budaya Chinchorro.
Kedua perempuan ini memimpin rukun warga dekat dua lokasi penggalian dan bekerja sama dengan sekelompok ilmuwan dari Universitas Tarapacá untuk membantu masyarakat memahami pentingnya budaya Chinchorro serta memastikan lokasi-lokasi itu dirawat.