Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Haji Salahuddin, Gugur Ditembak Belanda Saat Takbir dengan 12 Peluru Bersarang di Tubuhnya

Widi Agustian , Jurnalis-Jum'at, 16 Desember 2022 |06:03 WIB
Kisah Haji Salahuddin, Gugur Ditembak Belanda Saat Takbir dengan 12 Peluru Bersarang di Tubuhnya
Haji Salahuddin. (Foto: Setneg)
A
A
A

JAKARTA - Haji Salahuddin Bin Talabuddin merupakan tokoh nasional yang diangkat menjadi Pahlawan Nasional pada 2022. Haji Salahuddin Bin Talabuddin, melaksanakan ibadah haji selama tiga tahun untuk mendalami islam pada 1907 hingga 1910. 

Haji Salahuddin kembali ke tanah air dan menuju ke kampungnya di Gemia, Patani, pada tahun 1911. Selama berada di Patani, pekerjaan sehari-harinya adalah mengajarkan baca-tulis Alquran pada anak-anak.

Tahun 1916, Haji Salahuddin Bin Talabuddin pindah ke Salawati, Raja Ampat dan menikah dengan anak Raja Ampat dan berdakwah. Haji Salahuddin Bin Talabuddin mengajarkan barazanji, saraffal anam, menyatukan umat islam untuk menentang penjajahan. Aktifitasnya tersebut tidak disukai oleh Polisi Belanda di Salawati.

Kemudian, pada tahun 1918 – 1923 Raja Ampat dilanda penyakit Beri-beri (hepatitis). Samari, anak angkatnya, meninggal karena hanya diobati dengan pengobatan tradisional dan Haji Salahuddin didakwa membunuh anaknya dengan membiarkan mati tanpa pengobatan (vaksin).

BACA JUGA:Bertemu Nelayan Biak Numfor Papua, Wapres: Anda Semua Pahlawan Indonesia

Atas tuduhan pembunuhan itu, Ia dijatuhi hukuman pembuangan sebagai akal bulus pemerintah kolonial untuk menghentikan aktivitas Pengajian dan dakwah anti Belanda yang dijalankan sejak tahun 1918.

Haji Salahuddin Bin Talabuddin dibuang ke Sawah Lunto dengan tuduhan pembunuhan anak untuk menghentikan gerakan dakwah. Pada 1925 – 1926, Sepulang dari Sawah Lunto, Ia bergabung dalam organisasi Sarekat Islam (S1 - Merah) dan lagi-lagi menjadi Buronan Politik, dan lolos dari penangkapan karena Pemerintahan Belanda menangkap S1 Merah yang dituduh biang dari Pemberontakan PKI.

Haji Salahuddin dianggap berbahaya, namun dalam laporan MEMORIES VAN OVERGAVE disebut tidak ada aksi PKI di Weda dan setelah itu Haji Salahuddin Bergabung dengan PSII dan juga duduk sebagai Pengurus GAPI yang bersemboyan Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, Satu Cita-cita menuju Indonesia Merdeka.

Pemerintah Belanda kemudian melakukan penangkapan besar-besaran terhadap aktivis GAPI dan Haji Salahuddin Lolos dari penangkapan.

Pada 1927 – 1937, Haji Salahuddin bersembunyi dari goa ke goa sambil mendalami Ilmu Tarekat Qadariah. Atas perilakunya itu, Ia dianggap gila, akhirnya ia ke Salawati dan kembali membuka pengajian dan melancarkan dakwah serta memperoleh banyak murid dan pengikut dan kembali mengorganisir pengajian dan aktivitas yang bertujuan menantang Pemerintah Kolonial Belanda.

Tahun 1937, melalui organisasi SJII (Syarikat Jamiatul Iman Wal-Islam) yang dibentuknya , Ia memompakan perjuangan anti Belanda pada murid dan pengikut-pengikutnya yang ternyata anggotanya bukan hanya orangorang Islam tapi juga terdiri atas orang-orang Kristen, karena tema utamanya adalah menuju Indonesia Merdeka dan mengusir Belanda, karena itu Ia membentuk sayap militer dalam SJII.

Kemudian pada 1941 – 1942, Haji Salahuddin Bin Talabuddin bersama dengan 6 orang pengikutnya mengibarkan bendera merah-putih di Tanjung Ngolopopo.Haji Salahuddin dan istri beserta 4 orang pengikutnya ditangkap Pemerintah kolonial. 

Isterinya dibuang dan dipenjara di Makassar. Haji Salahuddin dibuang di Nusakambangan bersama 2 orang pengikutnya. Dari Nusakambangan, Ia dipindahkan ke Boven Digul, sementara kawannya yang lain tetap di Nusakambangan. Di Boven Digul Ia bertemu dengan tokoh-tokoh pergerakan politik dan menghabiskan hari-harinya berdiskusi sesama buangan. Hanya saja tidak diperoleh informasi lanjut dengan siapa saja Ia bertemu di Boven Digul

Pada 1942 – 1946, Haji Salahuddin Bin Talabuddin kembali ke Gebe, Selama di Gebe Ia kembali menggiatkan organisasi SJII dan karena organisasinya bertumbuh besar, Ia memindahkan kegiatannya ke Patani ; Perjuangan SJII bukan semata-mata perjuangan agama karena keanggotaan SJII, terdapat juga kelompokkelompok masyarakat /orang-orang yang beragama Kristen. Dengan begitu disimpulkan bahwa SJII adalah organisasi yang memperjuangkan kemerdekaan. Demikian mengutip laman Setneg.

Dalam Dimensi Islam, fatwanya yang utama adalah “Haram hukumnya rakyat bekerjasama dengan Belanda” dan siapa pun yang ketahuan menjadi kaki-tangan Belanda akan diberi hukuman yang setimpal.Di Patani, Ia mengobarkan Perjuangan Anti Belanda; dan membentuk Sayap Militer yang dipersenjatai dengan senjata-senjata tradisional, usaha pembuatan senjata tradisional dengan berbagai bentuk diusahakan masyarakat di seluruh daerah Patani untuk mempersiapkan sayap militer SJII.

Gerakan ini sangat meresahkan Pemerintah Belanda yang berkuasa kembali selepas Jepang kalah.

Tahun 1947, Hampir semua penduduk di Patani siap perang jika Belanda kembali berkuasa, seruan merah-putih menggema di mana-mana. Belanda akhirnya mengirim polisi untuk berpatroli dan meredam gerakan merah-putih di Weda. Haji Salahuddin dituduh menyebarkan aliran sesat, dan akhirnya dikirim patroli polisi untuk meredam Gerakan merah-putih dan kemudian terjadi bentrok beberapa kali antara polisi Belanda dan Pengikut SJII ; Pertama 11 orang meninggal, kemudian pada bentrok selanjutnya 30 orang meninggal setelah Belanda menggunakan kapal perang, mengangkut pasukan dan pertempuran diantara keduanya tidak bisa dihindari.

Tidak hanya laki-laki yang bertempur menghadapi Belanda, tapi juga kaum perempuan sebanyak 600 orang ikut bertempur berhadapan langsung dalam perkelahian melawan Pasukan Belanda, dan Belanda pun lari ke kapal dan meninggalkan Patani.

Tanggal 16 – 17 Februari 1947, Kapal Perang Belanda tiba di Patani dengan membawa tambahan pasukan. Ikut serta Residen Ternate (yang juga Sultan Ternate) Iskandar Muhammad Djabir Syah bersama asissten Residen Ternate Mr De Leeuw bersama pasukan Belanda dengan persenjataan lengkap.

Sultan Ternate yang juga sebagai Residen Ternate, menemui langsung Haji Salahuddin dan Haji Salahuddin sangat maklum atas kedatangan Sultan Ternate, seorang Sultan yang sangat dihormatinya dan datang sendiri untuk menemuinya untuk membawa atau menjemputnya ke Ternate dengan tangan yang diikat, Ia pun berteriak “ALLAHU AKBAR! Lanjutkan perjuangan.”

Ia pun segera dibawa ke atas kapal perang sambil berteriak dengan lantang “Hidup Islam, Hidup Sarekat Islam, Hidup Republik Indonesia, Allahu Akbar”.

Walau demikian Ia pun tetap tenang dihadapan Sultan Ternate, seorang yang sangat dihormatinya. Namun setelah Ia naik ke atas kapal, terjadilah perkelahian antara pengikutnya dengan pasukan Belanda. 11 orang meninggal dan puluhan yang luka tembak demikian juga di pihak Belanda.

Kemudian, pada 1947, Sultan Ternate memerintahkan agar semua senjata tajam diserahkan, setibanya di Ternate, Ia dijebloskan ke penjara dalam Benteng Orange. Dalam proses pengadilan Ia menolak untuk diadli karena Ia menganggap Indonesia sudah merdeka dan yang berhak untuk mengadilinya kalau Ia melanggar adalah Pengadilan RI. Ia menolak Pengadilan Belanda karena tidak sah, tapi Pengadilan Tidore yang mengadilinya dengan dakwaan melakukan makar untuk menggulingkan kekuasaan Pemerintah Belanda. Ia diminta untuk mengajukan banding dan meminta maaf tapi Ia menolak.

Selanjutnya, 6 Juni 1948, Ia pun dijatuhi hukuman mati didepan 12 orang regu tembak, tanpa rasa takut Ia minta agar matanya tidak ditutup dan tangannya tidak diikat serta berpesan pada regu tembak yang akan mengeksekusinya agar diizinkan takbir untuk sholat sunnah.

Setelah Ia mengangkat tangan untuk takbir, Ia meminta agar ditembak dan maut pun menjemputnya dengan 12 peluru bersarang di tubuhnya. 

(Widi Agustian)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement