Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

6 Fakta Kiamat Asteroid Tidak Musnahkan Nenek Moyang Kita, Bagaimana Cara Mereka Bertahan?

Tim Okezone , Jurnalis-Rabu, 11 Januari 2023 |07:28 WIB
6 Fakta Kiamat Asteroid Tidak Musnahkan Nenek Moyang Kita, Bagaimana Cara Mereka Bertahan?
A
A
A

JAKARTA - Sekira 252 juta tahun yang lalu dunia dihadapi oleh kiamat kecil yang hampir memusnahkan seluruh populasi.

Dikutip dari BBC, Asteroid seluas 10km menghantam wilayah pesisir - saat ini diketahui sebagai wilayah Meksiko - dengan kekuatan lebih dari semiliar bom nuklir yang mengakhiri Zaman Kapur secara dramatis.

Bagaimana nenek moyang kita bisa selamat dari bencana super dahsyat itu? Berikut fakta yang berhasil dihimpun:

1. Membunuh 95% Populasi

Kemusnahan Terbesar seperti ini pernah terjadi 252 juta silam, lebih mematikan (meskipun tidak terlalu mendadak), membunuh 95% kehidupan di lautan dan 70% di daratan.

Batu langit yang mengakhiri Zaman Kapur telah memusnahkan dinosaurus terkenal seperti Tyrannosaurus dan Triceratops, serta makhluk yang kurang dikenal tetapi aneh seperti Anzu, atau "ayam dari neraka".

Ada pula dinosaurus berparuh bebek, dinosaurus leher panjang, dinosaurus berkulit tebal seperti baja - dan, dengan sangat cepat, semuanya mati.

2. Bencana Paling Buruk

Steve Brusatte dan rekan-rekannya, yang menulis riset bertajuk The Rise and Reign of the Mammals di Universitas Edinburgh.

Satu hal yang ditekankan oleh Brusatte adalah saat asteroid menghantam bumi, adalah hari paling buruk untuk kehidupan bagi siapa pun, termasuk mamalia, burung (dinosaurus unggas), dan reptil.

"Ini bukan asteroid normal, ini adalah asteroid terbesar yang pernah menghantam Bumi, setidaknya sejak setengah miliar tahun terakhir," kata Brusatte. "Usaha bertahan hidup mamalia hampir sama seperti dinosaurus."

3. Kepunahan Massal Melahirkan Babak Baru

Kepunahan massal melahirkan babak baru untuk diversifikasi besar-besaran yang akhirnya memunculkan paus biru, cheetah, dormice, platipus, dan tentu saja, kita.

Namun, pertama-tama, rintangan kecil: hutan di dunia telah musnah dilalap api, dan langit penuh dengan abu, menghalangi sinar matahari dan mencegah tumbuhan berfotosintesis. Ekosistem runtuh "seperti sistem yang rapuh", kata Busatte.

Permukaan Bumi kemudian menjadi lebih panas dari oven dalam putaran gelombang panas, dan setelah itu, musim dingin yang tidak menentu dengan suhu rata-rata turun 20C selama lebih dari 30 tahun.

Banyak pemangsa mamalia yang paling berbahaya telah punah, tapi dunia itu sendiri menjadi musuh tak terbayangkan bagi kehidupan yang ada.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement