Berikutnya Sri Gandra yang tampil menjadi Raja Kediri sebagaimana juga terdapat di Prasasti Jaring tahun 1181. Di masa pemerintahan Sri Gandra inilah diketahui ada sejumlah orang yang menggunakan nama-nama binatang seperti Kebo Salawah, Manjangan Puguh, Macan Putih, Gajah Kuning, dan lain sebagainya.
Sri Kameswara menjadi raja kesembilan yang memerintah Kediri di Panjalu. Namun disinyalir sebenarnya ada raja Kediri sebelum Kameswara tetapi tidak ada berita atau informasi yang jelas mengenai hal itu sampai Raja Kameswara naik tahta pada 1182 - 1185. Di masa Kameswara inilah kitab kuno Smaradhana ditulis oleh Mpu Darmaja.
Kitab ini berisikan pujian terhadap Raja Kameswara. Tak hanya itu, kitab Lubdaka dan Wretansancaya juga ditulis oleh Mpu Tan Akung. Kitab Lubdaka bercerita seorang pemburu yang akhirnya masuk surga, dan Wretansancaya yang berisi petunjuk mempelajari tembang Jawa kuno. Di masa Kameswara karya sastra berkembang pesat dan mencapai puncak kejayaannya. Beberapa karya sastra antara lain Kitab Kresnayana karya Mpu Triguna dan Kitab Sumanasantaka karya Mpu Managuna.
Kertajaya menjadi raja Kediri saat beribukota di Panjalu, yang memerintah sekitar 1182 - 1222 M. Ia memakai lencana Garuda Mukha seperti Raja Airlangga. Sayang selama memerintah di Kediri, ia dinilai kurang bijaksana, sehingga tidak disukai rakyat terutama para brahmana atau tokoh agama.
Selama masa pemerintahannya inilah kerap kali terjadi pertentangan antara Kertajaya dengan para brahmana. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab berakhirnya era Kerajaan Kediri di Panjalu. Kertajaya dikalahkan oleh Ken Arok dari Tumapel atau Singasari, yang menandai berakhirnya masa Kerajaan Kediri.
(Qur'anul Hidayat)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.