JAKARTA - Setelah merangkak ke selnya, Lee Young-joo diperintahkan untuk duduk bersila dengan tangan di lutut. Dia tidak diizinkan bergerak hingga 12 jam sehari. Sedikit bergerak atau berbisik pelan kepada teman satu selnya, dia akan dihukum berat.
Young-joo hanya diberi sedikit akses mendapat air dan sedikit sekam jagung untuk dimakan. "Saya merasa seperti binatang, bukan manusia," katanya dilansir dari BBC, Jumat (27/1/2023).
BACA JUGA: Lapas Manado Kebanjiran, Ratusan Warga Binaan Diungsikan ke Lantai Dua
Young-joo juga mengaku kepada BBC bahwa dia berjam-jam diinterogasi karena melakukan sesuatu yang mungkin banyak dari kita menganggap remeh, pergi meninggalkan negaranya.
Dia melarikan diri dari Korea Utara pada tahun 2007 tapi ditangkap di China dan dikirim pulang. Dia sudah tiga bulan mendekam di Pusat Penahanan Onsong di Korea Utara dekat perbatasan China, menunggu untuk dihukum.
Saat duduk di selnya, dia mendengarkan bunyi "klak klak klak" dari ujung logam sepatu bot penjaga yang berpatroli di luar.
Petugas itu berjalan mondar-mandir. Saat suara itu semakin jauh, Young-joo mengambil kesempatan dan berbisik ke salah satu teman satu selnya.
"Kami akan bicara soal rencana pembelotan lagi, rencana untuk bertemu dengan broker, ini adalah pembicaraan rahasia."
Penjara itu ada agar orang-orang kapok melarikan diri dari Korea Utara, namun jelas itu tidak membuat Young-joo maupun teman satu selnya jera.
Sebagian besar tahanan menunggu untuk dihukum karena mencoba meninggalkan negara itu.
Rencana Young-joo telah terdengar
"Penjaga akan meminta saya untuk datang ke jeruji sel sambil mengulurkan tangan. Lalu dia mulai memukuli tangan saya dengan gantungan kunci sampai bengkak dan memar. Aku tidak ingin menangis karena bangga. Penjaga ini menganggap kami yang mencoba meninggalkan Korea Utara sebagai pengkhianat.
"Kami bisa mendengar orang lain dipukuli di sel-sel lain karena berada di koridor yang sama. Saya berada di sel tiga tetapi saya bisa mendengar pemukulan dari sel 10."