JAKARTA - Presiden Soeharto disebut-sebut sebagai seorang diktator. Ia adalah presiden Indonesia paling lama, menjabat selama 30 tahun.
Kendati demikian, tak sedikit yang melawan kediktatorannya, seperti tiga jenderal berikut ini:
1. Jenderal Polisi Hoegeng
Mantan Kapolri Jenderal Polisi Hoegeng merupakan polisi yang dikenal jujur dan berani melawan segala bentuk kecurangan.
BACA JUGA:Siapakah Anak Prabowo Subianto dan Titiek Soeharto? Ternyata Lulusan Universitas Harvard
Hoegeng yang bergabung dalam Petisi 50 telah menangani sejumlah kasus. Bahkan, kasus yang diusutnya diduga melibatkan orang-orang dekat Soeharto.
Hingga akhirnya Hoegeng pernah ditawari Duta Besar Swedia dan Duta Besar di Kerajaan Belgia, Benelux, dan Luxemburg. Namun, Hoegeng menolaknya.
Hal tersebut membuat dirinya dirinya dipanggil ke Cendana, kediaman Soeharto. Soeharto marah sembari berkata “Di Indonesia, tidak ada lagi lowongan buat Hoegeng,”. Saat itu juga, Hoegeng langsung mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Kapolri.
2. Letnan Jenderal M Jasin
Letnan Jenderal M Jasin juga tergabung Petisi 50. Ia juga salah satu orang yang berani menentang kediktaroran Soeharto.
BACA JUGA:10 Panglima Kostrad yang Jadi KSAD, Termasuk Jenderal Soeharto yang Jadi Presiden RI
Meski, dirinya salah satu petinggi yang membantu terbentuknya Orde Baru dan memiliki kedudukan sebagai Pangdam V/Brawijaya.
Sepak terjang Jasin berani membasmi sisa gerombolan pemberontak PKI di Blitar dan Madiun. Bahkan, kemenangan Soeharto pada Pemilu 1971 juga berkat bantuan Jasin.
Seiring waktu, hubungan keduanya merenggang karena akumulasi kekecewaan Jasin terhadap Soeharto.
Jasin menuliskan 10 lembar surat bernada keras kepada Soeharto. Ia juga mengkritisi berbagai praktik bisnis pejabat pemerintah.
Soeharto diketahui membangun dan memiliki peternakan di Tapos. Anggota keluarganya yang lain juga menguasai lini bisnis cengkeh dan banyak komoditas serupa.
Tak hanya itu, Jasin berani menyebut Soeharto sebagai pemimpin munafik. Sebab, melanggar peraturan yang dibuatnya sendiri.
3. Jenderal Besar AH Nasution
Sosok yang berani menentang kediktatoran Soeharto berikutnya adalah Jenderal Besar Abdul Haris Nasution.
Jenderal yang lolos dari pembunuhan PKI ini berani menentang kediktatoran Soeharto melalui kelompok Petisi 50. Kelompok ini diisi oleh 50 purnawirawan jenderal dan politisi senior yang mengkritisi pemerintahan Orde Baru di bawah Soeharto.
Pembentukan Petisi 50 dimulai ketika Soeharto meminta ABRI untuk mendukung Golkar dalam Pemilu. Petisi 50 sendiri berdiri pada 5 Mei 1980 dan menganggap bahwa Soeharto sudah menyalahgunakan filosofi dasar negara, Pancasila, sekaligus menodainya.
Hubungan Nasution dan Soeharto memang sempat naik turun. Bahkan, Nasution pernah hampir memecat Soeharto, yang kala itu masih menjadi juniornya. Sebab, Soeharto menyelundupkan beberapa komoditas dengan Liem Sioe Liong, Tek Kiong, dan Bob Hasan.
Namun, Soeharto diselamatkan oleh Jenderal Gatot Soebroto yang menjabat sebagai Wakil KSAD. Hubungan Nasution dan Soeharto pun mereda dan sevisi karena memiliki sikap anti PKI. Keduanya pun bekerja sama untuk menumpas partai terlarang itu dari Bumi Pertiwi.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.