Penentangan KH Zainal Mustafa terhadap pemerintah pendudukan Jepang di Indonesia memuncak ketika kebijakan seikerei, yaitu menghormati dan membungkuk kepada matahari, menjadi wajib. Saat Zainal melakukan dakwah pada 25 Februari 1944, ia dipanggil oleh beberapa tentara Jepang.
Dirinya diminta untuk menemui para pejabat pemerintah Jepang di Tasikmalaya. Sore harinya, Zainal ditangkap bersama pengikutnya untuk diadili di Jakarta. Pada akhirnya, KH Zainal Mustafa dieksekusi mati oleh tentara Jepang pada 25 Oktober 1944 dan dikebumikan di Ancol, Jakarta Utara.
3. Mahmud Marzuki
Mahmud Marzuki merupakan pendakwah dan juga pejuang yang melawan penjajah asal Riau. Marzuki meninggal setelah ditangkap dan disiksa oleh tentara Jepang. Marzuki, yang sedang mengadakan rapat bersama pejuang lainnya, ditangkap bersama 12 orang lainnya setelah tempatnya dikepung oleh tentara Jepang.
Di sana mereka disiksa, seperti tidak diberi makan, dipukuli dengan kayu berduri, hingga diikat dan digantung dengan posisi kepala di bawah di dalam sebuah penjara di Pekanbaru. Hingga pada akhirnya, Mahmud Marzuki meninggal dunia akibat disiksa dan dieksekusi oleh tentara Jepang pada 5 Agustus 1945.
4. Komarudin
Komarudin atau Yang Chil-seong merupakan salah satu seorang pejuang kemerdekaan Indonesia yang berasal dari Korea. Pejuang asal Korea itu lahir pada 29 Mei 1919 di Kabupaten Wanju, Provinsi Jeolla. Pada awalnya ia datang ke Bandung untuk melaksanakan tugas sebagai penjaga tahanan tentara pada 1942.
Kemudian ia memutuskan menetap di Indonesia setelah kemerdekaan dan berganti nama menjadi Komarudin. Komarudin masuk ke dalam kelompok Pasukan Pangeran Papak yang dipimpin oleh Mayor Kosasih. Saat Belanda menyerang Garut, pasukannya kalah dalam perang karena memiliki pasukan yang lebih sedikit dari Belanda. Pada 10 Agustus 1949, Komarudin bersama pejuang lainnya dieksekusi di Kerkhoff, Garut. Komarudin gugur dan meninggalkan seorang anak laki-laki.
(Fakhrizal Fakhri )