Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Asal Usul Ponorogo, Konon Dicetuskan Cucu Utusan Sultan Demak dengan Ulama

Avirista Midaada , Jurnalis-Rabu, 15 Februari 2023 |10:31 WIB
 Asal Usul Ponorogo, Konon Dicetuskan Cucu Utusan Sultan Demak dengan Ulama
Makam Bataro Katong (foto: dok Ponorogo.id)
A
A
A

KABUPATEN PONOROGO merupakan sebuah wilayah yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah. Konon daerah ini ada karena adanya pengaruh dari utusan Kesultanan Demak bernama Batoro Katong yang menyebarkan agama Islam.

Sebagaimana dikisahkan dari "Kisah Brang Wetan : Berdasarkan Babad Alit dan Babade Nagara Patjitan", terjemahan Karsono Hardjoseputro, Batoro Katong berhasil mengalahkan seorang kerabat dekat Raja Majapahit Prabu Brawijaya V bernama Ki Ageng Kutu yang menganut agama Buddha.

Konon Batoro Katong membawahi sejumlah wilayah di sekitar Gunung Lawu dan memerintah dengan sangat tentram. Banyak orang yang menyukai dan benar-benar tunduk pada Batoro Katong. Ia memerintah hingga tua yang selanjutnya diserahkan ke anaknya yang bernama Panembahan Agung.

 BACA JUGA:Kisah Panembahan Senopati Terpesona Kecantikan Ratu Kidul dan Diajak ke Istana Bawah Laut

Panembahan Agung inilah yang akhrinya dinobatkan sebagai adipati atau bupati kedua Ponorogo. Namun dari sini konon nama Ponorogo belum ada, yang ada hanyalah wilayah negara Batoro Katong, yang kemudian diubah menjadi nama Ponorogo.

Perubahan nama itu dilakukan ketika cucu Batoro Katong memerintah secara turun temurun dari warisan Panembahan Agung. Sang cucu konon pindah tempat tinggal, keluar dari pagar halaman Batoro Katong. Dia mem- bangun rumah di sebelah selatan kediaman Batoro Katong, sejauh setengah pal atau berjarak sekitar 1,5 kilometer.

 BACA JUGA: Ini Salah Satu Kesaktian Panembahan Senapati Penguasa Mataram

Ketika membangun rumah tersebut, dia mengumpulkan para mukmin dan para kiai yang sudah jumhur atas agama Islam. Ketika itu para petinggi sudah "pana" atas "raga"-nya. Para penggawa tinggi sepakat negara Batoro Katong dinamakan "Panaraga [Ponorogo]", karena orang-orang sudah pana atas raga-nya. Pana berarti "paham" dan raga berarti "badan". Mereka memahami badannya, memahami asal muasal raganya, dan tahu pada akhir perjalanannya artinya, tahu kemuliaan sangkan paran yang berarti asal dan tujuan hidup.

Ketika itu juga, pangeran cucu Batoro Katong ditetapkan oleh Sultan Trenggono sebagai adipati, dan seluruhnya sudah sepakat dengan para mukmin dan petinggi bahwa rumah selesai dibangun, sehingga dilakukanlah boyongan dan jumenengan (pengangkatan) menjadi adipati.

Sejak saat itulah, tahun-tahun pemerintahan Adipati Ponorogo III termasuk tenteram. Orang-orang Ponorogo yang maju dalam hal mempelajari agama Islam bahkan kian bertambah, hingga terkenal ke seluruh Pulau Jawa bahwa orang-orang Ponorogo pintar mengaji kitab.

Setelah meninggal, Batoro Katong dimakamkan di dalam pagar Katongan, yang namanya kemudian diganti dengan Astana Batoro Katong. Di dalam, pagar rumah menjadi makam priayi yang lain dan empat saudaranya dimakamkan di Katongan tersebut.

(Awaludin)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement