BHATORO Katong adipati pertama Ponorogo yang juga utusan Kerajaan Demak disebut pernah terlibat peperangan dengan Ki Ageng Kutu. Ki Ageng Kutu merupakan pemeluk agama Buddha yang konon menjadi salah satu kerabat dekat Prabu Brawijaya V, raja Majapahit.
Bhatoro Katong kalah pada perang pertamanya melawan Ki Ageng Kutu yang mengerahkan para pendeta dan pertapa. Bhatoro Katong kemudian kembali ke Kesultanan Demak untuk meminta bantuan pasukan. Sultan Demak saat itu lantas memberikan tambahan pasukan dengan di bawah dua orang kepercayaan Bhatoro Katong, yaitu Ki Ageng Mirah dan Ki Seloaji.
Bhatoro Katong juga mengumpulkan para mukmin atau orang Islam di wilayah utara yakni Madiun ke utara, yang, sudah lama memeluk agama Islam. Setelah itu bala tentara terkumpul banyak dan bergerak ke selatan, kemudian berbelok ke timur hingga tiba ke Desa Sawo, yang kini konon merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Ponorogo.
Persiapan pasukan dan persenjataan dilakukan di sana untuk memulai peperangan. Ki Ageng Kutu sudah mendengar berita bahwa orang Islam akan kembali menyerang Kutu, sebagaimana dikutip dari buku "Kisah Brang Wetan : Berdasarkan Babad Alit dan Babade Nagara Patjitan", terjemahan Karsono Hardjoseputro.
Ki Ageng Kutu kemudian mengumpulkan para ajar serta bala tentara orang Buddha. Senjata dan berbagai peralatan perang pun disiapkan. Pada suatu malam, Ki Ageng Kutu bergerak ke timur menghadapi musuh.
Perang pecah dengan gegap gempita. Sayang banyak pasukan Bhatoro Katongyang terbunuh. Ketika itu, orang Islam terdesak dan banyak yang tewas. Perang Ki Ageng Kutu tak bisa dilawan, lompatan banteng tunggangannya sangat cepat. Di kegelapan malam, Ki Ageng Kutu beserta banteng tunggangannya dapat melihat jelas seperti layaknya berperang di siang hari.
Sebaliknya, penglihatan Bhatoro Katong beserta bala tentaranya gelap, sehingga menyebabkan kebingungan Bhatoro Katong. Jika perang berlangsung siang hari, Ki Ageng Kutu tidak melawan. Di siang hari, Ki Ageng Kutu beserta bala tentaranya bersembunyi dan tinggal di hutan, tetapi pada malam hari menyerang bala tentara Bhatoro Katong.
Hal ini yang menyebabkan banyak bala tentara Islam yang terbunuh. Ketika menderita kekalahan itulah Bhatoro Katong kemudian menyepi di pertapaan di dekat Gunung Bayangkaki, mohon petunjuk kepada Yang Mahakuasa tentang bagaimana akhir perang, apakah dapat memperoleh kemenangan atau tidak menghadapi Ki Ageng Kutu.