Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Pernah Kalah, Utusan Kerajaan Demak Siapkan Strategi Khusus Perang Lawan Ki Ageng Kutu

Avirista Midaada , Jurnalis-Kamis, 16 Februari 2023 |06:54 WIB
Pernah Kalah, Utusan Kerajaan Demak Siapkan Strategi Khusus Perang Lawan Ki Ageng Kutu
Utusan Kerajaan Demak siapkan strategi khusus lawan Ki Ageng Putu. (Ilustrasi/Ist)
A
A
A

BHATORO Katong adipati pertama Ponorogo yang juga utusan Kerajaan Demak disebut pernah terlibat peperangan dengan Ki Ageng Kutu. Ki Ageng Kutu merupakan pemeluk agama Buddha yang konon menjadi salah satu kerabat dekat Prabu Brawijaya V, raja Majapahit.

Bhatoro Katong kalah pada perang pertamanya melawan Ki Ageng Kutu yang mengerahkan para pendeta dan pertapa. Bhatoro Katong kemudian kembali ke Kesultanan Demak untuk meminta bantuan pasukan. Sultan Demak saat itu lantas memberikan tambahan pasukan dengan di bawah dua orang kepercayaan Bhatoro Katong, yaitu Ki Ageng Mirah dan Ki Seloaji.

Bhatoro Katong juga mengumpulkan para mukmin atau orang Islam di wilayah utara yakni Madiun ke utara, yang, sudah lama memeluk agama Islam. Setelah itu bala tentara terkumpul banyak dan bergerak ke selatan, kemudian berbelok ke timur hingga tiba ke Desa Sawo, yang kini konon merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Ponorogo.

Persiapan pasukan dan persenjataan dilakukan di sana untuk memulai peperangan. Ki Ageng Kutu sudah mendengar berita bahwa orang Islam akan kembali menyerang Kutu, sebagaimana dikutip dari buku "Kisah Brang Wetan : Berdasarkan Babad Alit dan Babade Nagara Patjitan", terjemahan Karsono Hardjoseputro.

Ki Ageng Kutu kemudian mengumpulkan para ajar serta bala tentara orang Buddha. Senjata dan berbagai peralatan perang pun disiapkan. Pada suatu malam, Ki Ageng Kutu bergerak ke timur menghadapi musuh.

Perang pecah dengan gegap gempita. Sayang banyak pasukan Bhatoro Katongyang terbunuh. Ketika itu, orang Islam terdesak dan banyak yang tewas. Perang Ki Ageng Kutu tak bisa dilawan, lompatan banteng tunggangannya sangat cepat. Di kegelapan malam, Ki Ageng Kutu beserta banteng tunggangannya dapat melihat jelas seperti layaknya berperang di siang hari.

Sebaliknya, penglihatan Bhatoro Katong beserta bala tentaranya gelap, sehingga menyebabkan kebingungan Bhatoro Katong. Jika perang berlangsung siang hari, Ki Ageng Kutu tidak melawan. Di siang hari, Ki Ageng Kutu beserta bala tentaranya bersembunyi dan tinggal di hutan, tetapi pada malam hari menyerang bala tentara Bhatoro Katong.

Hal ini yang menyebabkan banyak bala tentara Islam yang terbunuh. Ketika menderita kekalahan itulah Bhatoro Katong kemudian menyepi di pertapaan di dekat Gunung Bayangkaki, mohon petunjuk kepada Yang Mahakuasa tentang bagaimana akhir perang, apakah dapat memperoleh kemenangan atau tidak menghadapi Ki Ageng Kutu.

Bhatoro Katong kemudian memperoleh petunjuk dari Allah bahwa perang dapat dimenangkan jika menggunakan siasat khusus. Adapun caranya adalah menggunakan obor di keempat penjuru: utara, timur, selatan, dan barat, ketika berperang melawan Ki Ageng Kutu pada malam hari. Jika disiasati dengan terang obor, mata Ki Ageng Kutu beserta bantengnya pasti silau, tidak jelas penglihatannya. Jika tidak diterangi obor, matanya dapat melihat secara jelas seperti halnya pada siang hari sehingga sering unggul.

Benar saja ketika hari yang telah ditentukan dan segala obor disiapkan di keempat penjuru, seketika itu pula Ki Ageng Kutu dan bantengnya kerepotan. Semak dikira musuh, musuh dikira semak. Lompatan banteng menabrak- nabrak karena tidak melihat dengan jelas.

Banteng itu bahkan tak bisa menerjang musuh dalam hal ini pasukan Bhatoro Katong dan beberapa kali harus terjungkal menabrak pepohonan besar. Lewat tengah malam di sebelah timur terdapat sebuah semak menggunung. Karena dikira musuh, semak itu pun diterjang dari sisi barat dengan sepenuh tenaga. Lompatan banteng sedemikian keras membentur semak berbatu, banteng terjungkal pingsan.

Ki Ageng Seloaji dengan segera menyerang Ki Ageng Kutu yang jatuh dari banteng. Selanjutnya ia menusukkan tombak ke dadanya hingga tembus ke tulang belikat. Ki Ageng Kutu tewas beserta bantengnya sekalian. Ketika Ki Ageng Kutu didekati Batoro Katong dan hendak diperiksa, mayat berikut bantengnya naik ke langit, kemudian musnah.

(Erha Aprili Ramadhoni)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement