Keterangan ini menjawab mengapa Sriwijaya melakukan ekspansi pada awal perkembangannya dan mengeluarkan prasasti - prasasti yang berisi kutukan.
Guna meluaskan kekuasaannya, Kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan diplomatik dengan mengirimkan utusan ke Cina. Pada waktu itu Raja Sri Cudamaniwarmadewa mengirimkan utusan ke Cina pada 1003 dan 1008. Sementara utusan kedua dikirimkan Sriwijaya saat masa pemerintahan Raja Sri Marawijayotungawarman.
Raja - raja Sriwijaya menjalin hubungan persahabatan dengan Chola dan Cina yang pada saat itu merupakan dua kekuatan besar di kawasan Asia Tenggara. Persahabatan tersebut diartikan sebagai antisipasi ancaman dari Jawa. Pada catatan Dinasti Sung, Sriwijaya diperkirakan menghadapi lawannya dari Pulau Jawa, yang tak lain adalah Mataram Kuno, yang saat itu diperintah oleh Raja Dharmmawangsa Tguh.
Hubungan diplomatik itu terus berlanjut terjadi pada 1016, 1017, dan 1018, di mana utusan Sriwijaya dikirimkan ke Cina. Untuk kepentingan diplomatik, Sriwijaya tak keberatan membayar upeti kepada Cina dan mengakui sebagai negara yang berkuasa.
Ini adalah bagian dari usaha diplomatik untuk menjamin agar Cina tidak membuka perdagangan langsung dengan negara lain di Asia Tenggara yang dapat merugikan Sriwijaya.
Sedangkan persahabatan dengan Chola diwujudkan dengan bantuan pendirian bangunan suci agama Buddha di Nagipattana oleh Raja Chola bernama Raja Kesariwarman Rajaraja I pada 1005 - 1006 Masehi. Bangunan ini selanjutnya diberi nama Cudamanivarmavihara.
Konon Chola ini berlokasi di India selatan, yang merupakan salah satu kerajaan besar dalam tradisi Tamil. Kerajaan Chola mencapai masa kejayaannya pada masa pemerintahan Rajaraja I tahun 985 - 1014 Masehi.
(Nanda Aria)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.