JAKARTA - Pada 1950, Brigjen Ignatius Slamet Riyadi pernah mengusulkan untuk membuat pasukan khusus melihat dari evaluasi pertempuran melawan Republik Maluku Selatan (RMS). Pada saat itu, RMS dapat menggagalkan banyak serangan APRI walaupun sedang kalah jumlah.
Pada awalnya, Kolonel A. E. Kawilarang mewujudkan gagasan Slamet Riyadi dengan membentuk satu kompi pasukan khusus yang bernama Kompi Pasukan Komando (Kipasko) dibawah naungan Letnan Boyke Naingholan. Tetapi, baru berjalan pelatihan selama dua bulan, pasukan itu dibubarkan karena tidak adanya pelatih yang memiliki kualifikasi komando.
Nama Idjon Djanbi muncul saat A.E Kawilarang masih mencari orang yang tepat untuk melatih satuan komandi di Pendidikan Combat Intelligent Course (CIC). Dengan pengalamannya sebagai mantan pasukan khusus Belanda, Ia dirasa sebagai orang yang tepat.
Suatu hari, pada tahun 1951, Letda Aloysius Sugianto atas perintah Kol. Kawilarang diutus untuk menemui Idjon Djanbi di kediamannya. Ia ditugaskan membujuk Idjon Djanbi untuk melatih CIC II yang berada di Ciledek, Jawa Barat.