JAKARTA - Kekalahan Kerajaan Mataram di bawah pemerintahan Sultan Agung saat menyerang VOC di Batavia menimbulkan perkara baru. Orang kepercayaan Sultan Agung yang juga pemimpin pasukan bernama Dipati Ukur merencanakan pemberontakan ke sang penguasa.
Pasalnya Dipati Ukur menyadari bahwa kekalahan atas VOC bakal membuat Sultan Agung marah ketika ia dan pasukannya pulang ke Mataram. Maka ia memutuskan untuk bersembunyi dan bertahan di Gunung Pongporang dengan pasukannya.
BACA JUGA:
Strategi penyerangan Mataram pun disusun oleh Dipati Ukur, ia mencoba membelot agar menghindari hukuman mati akibat kalah perang melawan VOC. Sebagaimana dikutip dari "Tuah Bumi Mataram : Dari Panembahan Senopati Hingga Amangkurat II", rencana Dipati Ukur itu ditolak oleh empat orang umbul pengikut Dipati Ukur, yaitu umbul-umbul Sukakerta, Sindangkasih, Cihaurbeti, dan Indihiang Galunggung.
Keempat umbul itu tidak ingin tinggal terlalu lama di Gunung Pongporang. Karena tidak ada kesepakatan, keempat umbul itu akhirnya memutuskan meninggalkan Gunung Pongporang dan melanjutkan perjalanannya ke Mataram.
BACA JUGA:
Sementara di Mataram, pemimpin pasukan satunya Bahurekso melaporkan ke Sultan Agung bahwa kekalahan pasukan Mataram atas VOC karena kekuatannya terpecah, sehingga tidak bisa melakukan serangan serentak ke lawan. Hal ini tentu menimbulkan kekecewaan pada diri Sultan Agung.
Kekecewaan Sultan Agung kian bertambah ketika mendapati laporan dari empat umbul pengikut Dipati Ukur, tentang nasib Dipati Ukur yang memilih bersembunyi di Gunung Pongporang. Hal ini memunculkan stigma kekalahan dan tidak kembalinya Dipati Ukur ke Mataram sebagai bentuk pemberontakan ke Kerajaan Mataram.
Sultan Agung lantas memerintahkan Bahurekso mencari sampai ketemu Dipati Ukur dan pasukannya. Berbekal informasi dari empat umbul itu pasukan Mataram bergerak ke Gunung Pongporang. Kabar tentang datangnya serbuan bala tentara Mataram yang dipimpin Bahurekso telah sampai ke telinga Dipati Ukur.