Database ini bisa mengidentifikasi orang-orang sehat yang punya resiko terkena Alzheimer, dan datanya bisa digunakan untuk uji coba obat di masa mendatang. Database ini juga diharapkan bisa menangani masalah kurangnya representasi orang-orang etnis lain dalam uji klinis Alzheimer, dan juga menarik perhatian di luar kalangan medis akademik di perkotaan.
Setelah dibangun, platform ini bisa melacak pasien yang sudah menerima pengobatan semacam Leqembi. Leqembi sudah mendapat persetujuan dari Amerika Serikat, dan diharapkan akan mendapatkan izin dari Badan Pengawas Makanan dan Obat (FDA) pada 6 Juli mendatang.
Kemungkinan fitur pelacakan tersebut akan dibutuhkan dalam paket kesehatan Medicare khusus orang dewasa, sebagai syarat untuk mengganti dana yang dikeluarkan untuk pengobatan Leqembi.
"Kita tidak mendesainnya untuk hal itu," lanjutnya. Namun, dia menambahkan bahwa mungkin saja hal tersebut dilakukan.
Silverberg menambahkan bahwa platform tersebut memungkinkan para peneliti yang sedang melakukan riset penyakit lain, untuk lebih memahami jenis pasien yang paling rawan terkena dampak dari obat-obatan terkait.
Di saat pandemi, AS tertinggal dibandingkan negara-negara lain yang sistem kesehatannya bisa menganalisis data pasien untuk resiko Covid-19.