Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Selembar Surat Bikin Menyentuh Hati saat Sutan Sjahrir Wafat

Solichan Arif , Jurnalis-Senin, 10 April 2023 |05:40 WIB
Selembar Surat Bikin Menyentuh Hati saat Sutan Sjahrir Wafat
Sutan Sjahrir (Foto: Dok Istimewa)
A
A
A

Justru sekarang--pada saat aku barangkali harus berpisah untuk selama--lamanya dengan yang paling kucintai dan yang paling indah bagiku di dunia ini—justru sekarang inilah aku merasa lebih terikat pada bangsaku, aku semakin mencintainya lebih daripada yang sudah-sudah”, demikian dikutip dari buku Sutan Sjahrir Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan (2010).

Sjahrir lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, yakni di bawah bayangan dua gunung, Merapi dan Singgalang. Ayahnya, Mohamad Rasad seorang jaksa kepala (landraat) di Pengadilan Negeri. Sedangkan ibunya, Poetri Siti Rabiah berasal dari Tapanuli, dari keluarga raja-raja lokal swapraja.

Perawakan Sjahrir yang cenderung pendek dan berbakat gemuk, yakni 160 cm, bersorot mata ramah bersahabat serta suka ketawa lepas, membuatnya mendapat julukan Bung Kecil.

Julukan itu diperoleh saat menjabat Perdana Menteri Indonesia. Sjahrir melihat politik sebagai tanggung jawab yang harus dipikulnya. Sebagai pendiri (1948) sekaligus ketua PSI (Partai Sosialis Indonesia), Sjahrir tidak pernah memandang politik sebagai tujuan. Dan bahkan kemerdekaan nasional bukan tujuan akhir politiknya.

Bagi Sjahrir, kemerdekaan nasional hanyalah jalan mewujudkan martabat manusia dan kesejahteraan bagi bangsa. Sedangkan politik hanyalah jalan mencapai kemerdekaan nasional.

“Politik menjadi perkara yang luhur, dan ilmu pengetahuan akan terbuka cakrawalanya seluas kaki langit karena pikiran dan jiwa sanggup menerobos batas-batasnya sendiri”.

Pandangan-pandangan politik, termasuk keengganannya melakukan aksi massa sebagaimana yang dilakukan Soekarno atau yang diusulkan Tan Malaka, yakni menggerakkan rakyat dengan agitasi politik, membuat Sjahrir sulit dimengerti.

Dalam perjalanannya bahkan ia bersimpang jalan dengan Bung Karno, kawan seperjuangan yang sama-sama bercita-cita melepaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan.

Sejak awal 1962, Sjahrir menjadi tahanan politik pemerintahan Soekarno, dan hingga meninggal dunia di Swiss 9 April 1966 masih berstatus tahanan politik. Pada 15 April 1966 atau enam hari wafatnya Sjahrir, Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit.

Isinya menyatakan Sutan Sjahrir sebagai pahlawan nasional dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan prosesi kenegaraan. Pemakaman jenazah Sjahrir berlangsung 19 April 1966 dengan diiringi pidato perpisahan Bung Hatta.

(Fakhrizal Fakhri )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement