BLITAR - Sutan Sjahrir wafat pada 9 April 1966 di Zurich Swiss setelah penyakit stroke menggerogoti hidupnya. Stroke dua kali memukul keras, sampai Perdana Menteri pertama Indonesia itu betul-betul lunglai tak berdaya.
Sjahrir wafat setelah sebulan perayaan usianya yang ke-57 tahun. Kalau hari ini masih hidup, Sjahrir yang lahir 5 Maret 1909, akan berumur 114 tahun.
Sebagaimana Soekarno atau Bung Karno, Bung Hatta, maupun Tan Malaka, Sjahrir begitu mencintai Indonesia, yakni negara bangsa yang tidak pernah berhenti diperjuangkannya.
Sehingga ketika kolonial Belanda memutuskan membuangnya ke Boven Digul, yakni tempat pengasingan yang paling ditakuti para aktivis pergerakan Indonesia, Sjahrir menerima itu dengan kepala tegak.
Di dalam penjara Cipinang 9 Desember 1934 ia ungkapkan sikapnya dalam selembar surat. Bahwa kepentingan bangsa dan negara adalah di atas segala-galanya.
“Berakhirlah sekarang keragu-raguan dan rasa susah yang kualami selama dua tahun terakhir ini, dan sekarang aku tidak mau dan tidak boleh memikirkannya lagi. Seolah-olah aku diingatkan kepada bangsaku, tatkala kuterima beslit tentang pembuangan itu; diingatkan pada segala sesuatu yang mengikat aku pada nasib dan penderitaan bangsa yang berjuta-juta ini.

Bukankah kesedihan pribadi kita akhirnya hanya sebagian kecil saja dari penderitaan yang besar, yang umum itu? Bukankah justru penderitaan itu merupakan ikatan kita yang semesra-mesranya dan sekuat-kuatnya?