INDRAMAYU - Pemandangan yang tidak biasa terlihat ketika arus mudik Lebaran di Jalur Pantai Utara (Pantura), Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, setiap tahunnya.
Di sana terlihat banyak orang berkumpul untuk menyapu koin dari pengendara yang melintas di Jembatan Sewo wilayah Kecamatan Sukra, tepatnya di perbatasan antara Kabupaten Indramayu dengan Subang.
Mereka masing-masing membawa sebuah sapu terbuat dari ranting kering yang digunakan untuk mengambil uang koin ataupun kertas yang dilempar oleh pengendara saat melintas.
Apabila ada pengendara yang melemparkan uang ke jalan, para penyapu koin itu akan saling berebut untuk mengambil uang tersebut. Seolah tidak mempedulikan keselamatan diri sendiri maupun pengguna jalan yang lain, mereka akan terus mengejar uang tersebut hingga didapat.
Walau aksi menyapu koin itu dapat membahayakan keselamatan mereka ataupun pengguna jalan, terutama saat arus mudik, namun sepertinya warga setempat serta pengendara yang sering melintas di jalur tersebut menganggap itu hal yang biasa dan susah untuk dihilangkan, karena sudah menjadi tradisi turun temurun.
Kasturi (72), salah seorang penyapu koin mengatakan, sebenarnya dia menyadari jika menyapu koin di Jembatan Sewo adalah kegiatan yang membahayakan. Namun, karena dia sudah terbiasa melakukannya setiap hari, rasa takutnya terhadap bahaya yang sewaktu-waktu mengancam dirinyapun telah hilang.
"Saya melakukan ini (menyapu koin) setiap hari, karena sudah terbiasa jadi saya tidak takut. Kalau kecelakaan sebenarnya di sini sudah sering, namanya juga di jalan raya. Tapi mau gimana lagi karena sudah jadi profesi, makanya tetap saya jalani," kata dia, kepada MNC Portal Indonesia (MPI), di Jembatan Sewo, Kecamatan Sukra, Indramayu, Rabu (19/4/2023).
Kasturi mengungkapkan, dia menekuni profesi sebagai seorang penyapu koin senjak 22 tahun silam, ketika usianya masih diangka 50 tahun. "Saya sudah lama mencari rezeki di sini sekitar 22 tahun, sejak usia saya masih 50 tahun, sekarang usia saya sudah 72 tahun," ungkap dia.
Dari kegiatan menyapu koin di Jembatan Sewo, Kasturi mengaku bisa mendapatkan uang sebesar Rp150.000 hingga Rp200.000 dalam sehari, yang ia lakukan mulai pukul 06.00 hingga 16.00 WIB.
"Kalau lagi rame saya bisa dapat uang sampai Rp200.000, tapi kalau lagi sepi ya paling cuma Rp80.000. Karena sayakan sudah tua, jadi nyapunya sambil duduk, jadi sedapatnya aja. Mungkin kalau yang muda-muda sih dapatnya bisa lebih banyak dari saya," terang dia.
Adapun, kebiasaan para pengendara melempar koin tidak lepas dari mitos sungai di bawah Jembatan Sewo yang disebut sebagai tempat tinggal arwah kakak beradik Saedah-Saeni yang melegenda karena hidup keduanya berakhir di sungai tersebut.
Saeni adalah seorang penari ronggeng Pantura yang berubah menjadi buaya. Oleh sebab itu, pengendara dipercaya akan selamat jika sudah memberi atau melempar 'saweran' di Jembatan Sewo.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.