Denny menambahkan, ilmu pengetahuan saat ini bahkan bisa memprediksi akan terjadi gerhana matahari pada 50 tahun mendatang. Ilmu pengetahuan kini bisa menghitungnya dengan presisi yang tinggi. Bahkan, dapat mengetahui di daerah mana gerhana matahari 50 tahun mendatang bisa dilihat.
“Cukup kita ketik saja di Google. Kurang dari satu menit, Google memberitahu bahwa gerhana total matahari di 2073, 50 tahun dari sekarang, akan terjadi di tanggal 21-22 Februari. Lengkap pula dituliskan di negara mana total gerhana matahari itu bisa dilihat,” ungkapnya.
Belum adanya kalender global hijriah, menurutnya, bukan karena ilmu pengetahun, namun pada pilihan interpretasi aturan, ego nasionalisme, maupun ego organisasi kemasyarakatan.
Denny pun mengutip salah satu hadits Nabi yang menyebut soal hilal untuk menentukan awal waktu dan akhir berpuasa. "Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang, maka genapkanlah (istikmal) menjadi 30 hari".
Yang jadi masalah, kata Denny, bagaimana cara melihat hilal, apakah dengan mata telanjang atau bisa dibantu teknologi canggih seperti teleskop dan satelit. Padahal, hadirnya ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini bisa digunakan untuk menghitung gerak benda alam raya hingga 50 tahun ke depan.
Mengutip pendapat Prof. Syamsul Anwar dari Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, Denny menyebut tentang penerapan imkan rukyat, yaitu keterlihatan atau kemungkinan terlihat hilal di suatu tempat di muka bumi untuk diberlakukan ke seluruh dunia.
“Bisakah bumi secara keseluruhan dilihat sebagai satu kesatuan matlak (zona waktu saja)? Sehingga, apabila di suatu tempat di mana pun di muka bumi telah terjadi imkan rukyat, sudah terlihat hilal, maka itu dipandang berlaku bagi seluruh kawasan muka bumi?” ujarnya.
Upaya merumuskan kalender global bersama umat Islam sendiri sudah diserukan sejak puluhan tahun lalu. Pada 1958, seorang ahli hadis asal Mesir bernama Ahmad Muhammad Syäkir sudah menyatakannya. Menurut Syakir, memiliki kalender global bersama bagi umat Islam di seluruh dunia adalah keharusan. Bukan saja kalender itu berguna secara sosial, tapi juga memiliki implikasi hukum Islam sendiri.
Kalender itu bisa menentukan secara global agar awal dan akhir Ramadhan di seluruh dunia jatuh di tanggal dan hari yang sama. Tidak seperti sekarang di mana hari Idul Fitri jatuh di hari yang berbeda.
Pandangan ini juga bersandar pada hadis Nabi yang berbunyi, “Puasa itu adalah pada hari (semua) kamu berpuasa, dan idulfitri itu adalah pada hari (semua) kamu beridulfitri, dan iduladha itu adalah pada hari (semua) kamu beriduladha".
Menurutnya, hadis tersebut mengandaikan ada satu waktu ibadah yang sama untuk seluruh dunia. Namun, waktu yang sama hanya bisa dirumuskan jika umat Islam memiliki kalender hijriah global yang sama.
Denny menambahkan, berbagai pertemuan internasional sudah dilakukan untuk menyusun kalender global hijriah umat Islam, di antaranya pada 2016, di mana Badan Urusan Agama Republik Turkiye menyelenggarakan Seminar Internasional Penyatuan Kalender Hijriyah.
“Sudah ada pertemuan di tingkat menteri negara yang mayoritasnya Muslim dalam rangka kalender global bersama. Juga pertemuan ahli falak dunia muslim beberapa kali dibuat untuk keperluan tersebut,” ungkapnya.
Terkait kalender global bersama umat Islam dunia, kata Denny, hanya mungkin terjadi jika disepakatinya lima prinsip. Pertama, diubahnya prinsip rukyat lokal menjadi rukyat global. Dengan begitu akan menghilangkan rukyat teritori yang selama ini berlaku di dunia Muslim, termasuk di Indonesia. Jika menggunakan rukyat global, maka yang terjadi di satu tempat juga menjadi rukyat di tempat lain di penjuru dunia.
Kedua, kesatuan matlak bagi seluruh dunia. Apabila di suatu tempat di mana pun di muka bumi telah terjadi imkan rukyat, hilal sudah terlihat, maka itu dipandang berlaku bagi seluruh kawasan di dunia.
Ketiga, dengan kalender global, maka melihat hilal diubah dari dengan mata telanjang menjadi perhitungan matematika dan astronomi yang sudah berkembang sangat pesat. Karena sudah sangat maju, ilmu pengetahuan lebih bisa melihat dan memprediksi pergerakan benda langit ketimbang mata telanjang.
Keempat, dunia Muslim juga perlu menerima apa yang disebut Garis Tanggal Internasional. Meski hanya garis imajiner buatan manusia, Garis Tanggal Internasional sama sekali tidak berlandaskan benda-benda langit ataupun rotasi bumi.
Garis imajiner itu diperlukan untuk pembentukan awal sebuah hari dan berperan besar menyatukan seluruh dunia pada satu tanggal dari kalender Gregorian yang menjadi dasar kalender masehi yang luas dipakai di dunia, termasuk di Indonesia.
Kelima, perlu persetujuan dan dipraktikkan serentak di beberapa negara mayoritas Muslim terkait empat prinsip sebelumnya untuk membentuk kalender hijriah global jika tidak ingin hanya berhenti di atas kertas.
“Misalnya, organisasi muslim besar dunia di Arab Saudi, Iran, Mesir, Indonesia, Malaysia, Tunisia, menyetujui dan langsung menerapkannya bagi komunitas di negara masing-masing. Secara perlahan, komunitas Muslim di seluruh dunia akan mengikuti,” ujar Denny.
Denny menegaskan, terciptanya kalender global hijriah akan menjadi perkembangan penting dunia Muslim yang sudah 15 abad berdiri. Untuk itu, kini adalah saatnya umat Muslim memiliki kalender hijriah global yang sama.
“Dunia sudah menjadi global. Tak hanya diperlukan cara berpikir global, tapi juga waktu global yang sama. Di era kalender global hijriah itu nanti, siapapun, dengan kekasihnya, suaminya, istrinya, orang tuanya, anaknya, tak lagi merayakan Idul Fitri di hari yang berbeda,” tegas Denny JA.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.