BADUY, dikenal dengan aliran kepercayaan Sunda Wiwitan. Namun, ada sebuah kisah di Kampung Margaluyu, Desa Leuwidamar, Kabupaten Rangkasbitung, atau yang dikenal dengan kampung suku Baduy.
Di Desa itu tinggal seorang bernama H. Amad Salim, warga dari Suku Baduy pertama yang masuk Islam abad 21. Pria Baduy ini memilih untuk memeluk Islam pada 1987.
”Saya masuk Islam karena hidayah dari Allah,” ujarnya.
Pria yang lahir dan besar di Kampung Baduy Luar yakni Desa Kanekes, Cibulegeur, Rangkasbitung itu awalnya kerap bergaul dengan orang beragama Islam. Namun, dirinya belum berpikir untuk masuk Islam.
Seiring waktu, Amad merasa terbelenggu oleh adat selama tinggal di Kampung Baduy, salah satunya soal sekolah. Ia melihat warga desa lain banyak yang menempuh pendidikan dengan bersekolah.
Kebiasaan orang Baduy ketika sakit tidak boleh ke Puskesmas juga menjadi keresahan tersendiri bagi Amad. Di mana, mereka memilih memanggil dukun dan memakai obat-obatan tradisional untuk kesembuhan.
Budaya warga Baduy terus dipelihara. Mereka memilih tidak mau menerima modernisasi, seperti tidak boleh memakai listrik, dilarang naik mobil, rumah tidak boleh dari batu bata harus dari kayu.
“Padahal saya melihat tetangga desa sebelah memiliki TV dan kendaraan roda dua. Anak-anaknya juga sekolah,” tuturnya.
Di tengah keresahannya, muncul keinginan Amad untuk menjadi Muslim. Hingga dirinya berbicara dengan kawan-kawannya bahwa hatinya terdorong masuk Islam.
Amad pun mengucap syahadat di kantor desa, dibimbing oleh pegawai Depag dari Rangkasbitung bernama Isnaeni. Ia menjadi Muslim.
Amad masih tinggal di Desa Kanekes setelah menjadi Muslim. Namun, dirinya bersama warga Baduy yang beragama Islam dimukimkan oleh Depsos di Margaluyu pada 1987.
Bedol desa diikuti sekitar 80 kepala keluarga berjumlah 200 orang. Namun, yang bertahan cuma 47 kepala keluarga (KK), sedangkan sebagian lagi memilih kembali ke Baduy Luar.
Untuk tetap membuat warga Baduy bersemangat dalam belajar agama bukan hal yang mudah. Berbagai cara dilakukan, seperti setiap malam didakan acara membaca surat Yasin atau Yasinan dari rumah ke rumah dengan sistem undian.
Namun, mengaji dari rumah ke rumah kurang memuaskan warga Margaluyu lantaran mereka memimpikan memiliki sebuah masjid. Upaya pembuatan masjid dilakukan dengan mengajukan proposal kepada Pemda Rangkasbitung.
Keinginan mereka dikabulkan. Pada 1987, Departemen Agama (Depag) membangun sebuah masjid di Margaluyu akhir tahun 1987. Persoalan tak berhenti di situ, karena belum ada ustadz dari orang Baduy asli. Mereka harus memanggil ustadz dari desa sekitar dan dari Yayasan Jamiati Washliah yang selama ini membimbing.
Kesedihan masih menyelimuti Amad meski cahaya Islam yang menyinari desanya karena ayahnya belum mau masuk Islam. Dia berdoa sepanjang malam supaya hati ayahnya terbuka, mendapat hidayah.
Doanya yang dipanjatkan Amad tak sia-sia. Ayahnya yang mantan kepada desa Baduy Luar akhirnya ikut masuk Islam. Bahkan, sang ayah memperoleh tawaran menunaikan ibadah haji dari Depag Rangkasbitung yang semakin menambah kebahagiaannya.
Ayahnya Amad pun tercatat sebagai orang Baduy pertama yang naik haji. Tiga tahun setelah naik haji, ayahnya dipanggil Yang Maha Kuasa.
Seiring waktu, giliran Amad yang memenuhi panggilan Allah SWT ke Tanah Suci pada 1990. Amad merasa terharu bisa melihat seluruh umat Islam berbagai warna kulit berkumpul, bersatu di Makkah.
”Ketika naik haji, saya merasa aneh karena beda alam. Di sini dingin, di Arab panas, cuma ada batu dan gunung,” ujarnya.
Amad semakin giat melakukan syiar Islam dengan gelar haji yang disandangnya.
Artikel ini pernah ditulis Doddy Handoko
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.