Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Jenderal Anak Penumpas PKI Ungkap Beratnya Seleksi Demi Dapatkan Baret Kopassus

Erha Aprili Ramadhoni , Jurnalis-Senin, 22 Mei 2023 |06:10 WIB
Jenderal Anak Penumpas PKI Ungkap Beratnya Seleksi Demi Dapatkan Baret Kopassus
Pramono Edhie Wibowo. (Antara)
A
A
A

JAKARTA - Sarwo Edhie Wibowo merupakan tokoh militer yang berjasa dalam penumpasan Gerakan 30 S/PKI. Saat itu, Sarwo Edhie menjabat sebagai Komandan RPKAD (kini Kopassus).

Hal ini membuat anaknya, Pramono Edhie Wibowo, bertekad menjadi pasukan baret merah, Kopassus, mengikuti jejak ayahnya.

Pramono Edhie membeberkan pengalamannya ketika mengikuti seleksi masuk prajurit Kopassus yang dikenal memiliki kemampuan di atas rata-rata.

Semua prajurit baret merah mempunyai kemampuan khusus gerak cepat dalam setiap medan, menembak cepat, pengintaian dan antiteror. Mereka dilatih untuk dapat menguasai kemampuan darat, laut, dan udara.

Usai menyelesaikan pendidikan dari Lembah Tidar pada 1980, Pramono Edhi mengikuti seleksi prajurit Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha), cikal bakal korps baret merah, Kopassus.

Sebagai calon prajurit baret merah, Pramono Edhie harus melalui Tahap Basis di Pusat Pendidikan Pelatihan Khusus, Batujajar, Bandung. Tahapan tersebut berupa keterampilan dasar, seperti menembak, teknik dan taktik tempur, operasi raid, perebutan cepat, serangan unit komando, dan navigasi darat.

Setelah Tahap Basis, ia mengikuti Tahapan Hutan Gunung hutan kawasan Citatah, Bandung. Di sana dia digembleng untuk menjadi pendaki serbu, penjejakan dan survival di tengah hutan. Tahapan tersebut diakhiri dengan berjalan kaki ke Situ Lembang-Cilacap dengan membawa sejumlah amunisi dan peralatan yang beratnya bisa mencapai belasan kilogram.

Sampai di Cilacap, prajurit kembali mendapat latihan cukup berat, yaitu Tahap Rawa Laut atau kemampuan berinfiltrasi melalui rawa laut.

"Latihan di Nusakambangan ini merupakan latihan tahap akhir, tak heran bila disebut Hell Week atau Minggu Neraka," ujar Pramono Edhie dikutip dari buku Pramono Edhie Wibowo dan Cetak Biru Indonesia ke Depan.

Calon prajurit komando mendapatkan materi navigasi laut, survival laut, pelolosan, renang ponco, dan pendaratan menggunakan perahu karet. Calon prajurit komando harus mampu berenang melintasi selat dari Cilacap ke Nusakambangan.

Siswa juga dilepas sejak pagi hari tanpa bekal dan harus sampai di suatu titik pukul 10 malam. Mereka harus menghindari segala rintangan alam maupun tembakan musuh selama dalam tahap pelolosan.

Namun jika tertangkap, prajurit akan mendapat interogasi dan siksaan layaknya medan perang sungguhan. Prajurit juga tak boleh membocorkan informasi, meski mendapatkan siksaan fisik selama 3 hari.

“Dalam Konvensi Jenewa, semua tawanan perang dilarang untuk disiksa, namun para calon prajurit Komando itu dilatih menghadapi semua hal terburuk di medan operasi,” tulis Pramono Edhie.

Begitu berat syarat dan tes menjadi prajurit komando, sehingga tak sembarang prajurit mampu mencapai nilai standar yang telah ditetapkan, seperti standar fisik 61, tes psikologis prajurit bernilai 70, dan kemampuan menembak dan berenang tanpa henti sejauh 2.000 meter.

“Hanya mereka yang memiliki mental baja yang mampu melalui pelatihan komando,” tutupnya.

(Erha Aprili Ramadhoni)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement