Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Permusuhan Mataram dan Banten saat Sultan Amangkurat I Bertahta

Avirista Midaada , Jurnalis-Senin, 22 Mei 2023 |05:51 WIB
Permusuhan Mataram dan Banten saat Sultan Amangkurat I Bertahta
Ilustrasi/ Doc: Istimewa
A
A
A

 

JAKARTA - Hubungan Kerajaan Mataram dan Banten mengalami keadaan buruk semasa Sultan Amangkurat I bertahta. Di bawah anak dari Sultan Agung itu ia tak merasa senang dengan Banten.

Konon Sultan Amangkurat I tidak merasa senang terhadap Banten karena tak ingin dipandang lebih rendah dari Banten. Artinya sang penguasa Mataram ingin tampil lebih superior di sini.

 BACA JUGA:

Bahkan suatu ketika dua Sultan Banten yang tua dan yang muda, pada bulan Februari 1649 menyuruh menghitung seluruh jumlah penduduk laki-laki di atas usia tujuh tahun, dan membagi-bagikan senapan kepada beberapa orang kepala, sebagaimana dikisahkan pada "Disintegrasi Mataram : Dibawah Mangkurat I".

Sementara kalangan berpendapat bahwa usaha menghitung ini dilakukan untuk mengetahui dengan tepat berapa besar kekuatan yang dapat dikumpulkan untuk menghadapi Mataram, apabila Mataram hendak memerangi Banten.

 BACA JUGA:

Sebaliknya, di Mataram Sultan Amangkurat I mencurigai orang-orang Banten, dan bertanya kepada seorang utusan Belanda yang berkunjung apakah ada utusan Bali yang datang di Banten. Dengan demikian, ia merasa khawatir akan diserang dari kiri dan kanan, karena Bali merupakan musuh bebuyutannya.

Selain itu, sang sultan itu ingin tahu betapa jauh letak Banten dari Batavia, mengingat saat itu dijelaskan dengan sebuah gambar yang dibuat dengan jari tangan oleh Tuan Kolektur di atas pasir. Sikap yang mengancam ini membuat Banten bersikap hati-hati.

Maka, tibalah sebuah perutusan Banten di Mataram sekitar tahun 1648-1649. Hanya Sadjarah Banten yang memuat keterangan tentang hal ini. Untuk hubungannya dengan Banten, Sunan memakai kaki tangannya di Cirebon. Setelah meninggalnya Panembahan Ratu pada tahun 1640, ini adalah cucunya, Panembahan Adiningkusuma, yang terutama dikenal sebagai Panembahan Girilaya.

Panembahan Ratu yang sudah sangat tua itu telah memperingatkan penggantinya supaya tidak turut campur dengan kemungkinan ditaklukkannya Banten oleh Mataram.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement