Sebagai negara tetangga yang berbatasan langsung, Putu mengingatkan agar pembahasan yang dilangsungkan bersama Papua Nugini tidak melulu membahas persoalan perbatasan wilayah saja.
"Kita negara tetangga, kita berbatasan langsung dengan Papua Nugini. Masa bicaranya perbatasan terus, seharusnya lebih jauh, harus memberi manfaat kepada mereka dan kedua negara," tuturnya.
Menyoal rencana kunjungan kenegaraan Presiden Jokowi ke Papua Nugini pada 6-7 Juli mendatang, Putu mengingatkan agar lawatan tersebut kiranya menjadi momentum kunjungan yang komprehensif.
"Jangan menjadikan kunjungan ini sebagai kunjungan biasa. Jangan menjadi kunjungan ordinary," ucapnya.
Sebaliknya, kata dia, menjadikan kunjungan tersebut sebagai momentum untuk menunjukkan komitmen Indonesia dalam mendukung, membantu dan membina hubungan yang lebih maksimal dengan Papua Nugini di berbagai bidang.
Menurut dia, apabila Indonesia ingin dihargai dan dihormati integritas teritorial-nya maka salah satunya ditempuh melalui kerja sama budaya, sekaligus menghargai dan menghormati balik budaya maupun seni Papua Nugini.
"Tentu mereka akan menghormati Indonesia dan menjaga konstitusi mereka tahun 1975 untuk terus menghormati teritorial integrity Indonesia serta menghormati NKRI," tuturnya.
Sebab, tambah dia, sikap Papua Nugini saat ini tidak mengakomodasi dan menolak gerakan separatis sehingga situasi tersebut sangatlah penting untuk dijaga serta diperhatikan agar tidak berbalik.
"Kalau kita abai, mereka pun akan merubah sikap politik mereka. Mungkin mereka akan mendukung gerakan separatis, mungkin mereka akan memfasilitasi gerakan separatis Papua Merdeka di negara mereka," pungkasnya.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.