Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Keanehan Mengerikan Dialami Mantan Algojo Penumpas PKI hingga Akhirnya Dipasung

Solichan Arif , Jurnalis-Minggu, 18 Juni 2023 |17:57 WIB
Keanehan Mengerikan Dialami Mantan Algojo Penumpas PKI hingga Akhirnya Dipasung
Supardi (Foto: Koran Sindo)
A
A
A

TULUNGAGUNG – Mantan algojo pada era penumpasan G30 S PKI, Supardi alias Adi mengalami keanehan dalam hidupnya. Itu pun yang membuatnya dipasung, karena dianggap bisa membahayakan masyarakat.

Berawal ketika dirinya merantau ke Palembang, Sumatera Selatan. Ia membabat pepohonan, karena rencananya ia ingin membuat perkebunan kopi.

Gejala aneh mulai terlihat ketika Adi mengeluh jika dirinya selalu diikuti bulan. Kemanapun dia pergi, satelit bumi itu selalu mengikuti langkahnya.

Peristiwa itu diceritakan Kusnoto, tetangga Adi, yang mengaku hidup bersamanya tujuh tahun. "Tujuh tahun kami hidup bersama di Palembang," ujarnya 2011 silam.

Hal yang dialaminya itu membuat Adi gelisah dan selalu mondar mandir setiap malam. "Katanya, dia tengah menghindari bulan yang terus mengikutinya,“ ujar Kusnoto.

Pada saat bersamaan malaria tropis menyerang. Selain Adi, dua orang rekannya yang ikut membabat hutan juga menderita penyakit yang sama.

Satu orang meninggal dunia, dan satu orang lainya tidak diketahui rimbanya. Namun sebelum hilang, warga Desa Podorejo ini juga dianggap tidak waras.

Mansyur, keponakan Adi, mengatakan, pamannya langsung dibawa pulang ke kampung halaman begitu keluarga mendengar dia menderita sakit di perantauan.

“Dibawa pulang sekitar tahun 1973. Pada saat pertama, emosinya tidak terkendali. Selain ngoceh sendiri, masih sering mengamuk,“ katanya.

Keluarga tak bisa berbuat banyak dengan kondisi ekonomi yang terbatas. Langkah yang diambil keluarga akhirnya dengan memasungnya, karena kondisi kejiwaannya membuat Adi berbahaya bagi masyarakat.

Kembali dijelaskan Kusnoto tetangga sekaligus sahabat Adi, bahwa rekannya itu menjadi sosok yang mudah mengamuk tanpa diketahui alasannya. Jika sudah kalap, membuat warga Desa Podorejo, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, itu seperti kehilangan akal.

“Karena badannya yang tinggi besar dan dikhawatirkan membahayakan orang lain, kerabat dan teman memutuskan untuk dipasung,” ujar Kusnoto.

Karena kondisi itu, Adi akhirnya ditempatkan di “rumah baru”, tak jauh dari rumah yang ditempati keluarganya. Bangunan itu hanya berupa empat tiang kayu, dengan selembar terpal usang yang berfungsi sebagai atap pelindung panas dan hujan.

Pihak keluarga sengaja menempatkan Adi di sana. Sengaja disembunyikan agar orang lain yang bertandang tidak mudah mengetahuinya.

“Tentunya penyakit seperti ini ini sama dengan aib,“ kata Kusnoto.

Nasib yang dialami Adi sebagai tokoh yang pernah memimpin penumpasan pemberontakan G30S PKI 1965 terbilang tragis. Sebab, harus dipasung layaknya pesakitan, dengan rantai pergelangan sebelah kakinya kuat-kuat, hingga berbekas di permukaan kulit.

Ujung rantai sepanjang 5 meter itu tertanam di lantai gubuk membuat gerak hidup Adi hanya sebatas panjang rantai tersebut. Meski dalam keadaan terbelenggu, dia masih bisa merebus air untuk membuat kopi bagi dirinya sendiri.

“Sebelumnya ia sempat juga dipasung. Namun karena pasung itu membuatnya rebah tak berdaya maka diganti dengan rantai besi,“ kata Kusnoto.

Guncangan jiwa yang mengubah Adi terjadi paska tragedi kemanusiaan Gestapu. Usai menjalankan tugas sebagai algojo pencabut nyawa orang-orang yang dianggap antek dan anggota PKI.

(Arief Setyadi )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement