Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kala Pasukan Mataram Bantu Belanda Lintasi Sungai yang Penuh Buaya Ganas

Avirista Midaada , Jurnalis-Minggu, 25 Juni 2023 |10:11 WIB
 Kala Pasukan Mataram Bantu Belanda Lintasi Sungai yang Penuh Buaya Ganas
Illustrasi (foto: dok Okezone)
A
A
A

Setelah melewati kedua kali ini, pasukan memasuki sebuah daerah yang digambarkan sebagai lanskap yang sangat menyenangkan, membentang luas, polos, dan tinggi. Sebuah dataran yang penuh dengan rusa dan babi yang berlindung di bawah pohon hijau dan cabang-cabang sungai.

Mereka melanjutkan perjalanan melalui sawah berawa yang berada di barat laut daerah Walikukun dan menyeberangi Sungai Brak yang diduga adalah Kali Bibis. Hurdt kemudian mencatat bahwa pasukan berhenti di Desa Kapo, yang sesungguhnya pasti merupakan Desa Kawuk, sebuah permukiman paling tua di daerah Walikukun. Di tempat ini, pasukan beristirahat hingga 2 Oktober 1678.

Sementara tentara Hurdt menempuh jalur tadi, Kapten Arnout Wesdorp atau sekitar 1640 - 1678, beserta pasukannya sendiri pergi ke Jogorogo karena diperkirakan daerah itu masih menjadi pertahanan kekuatan besar pemberontak.

Namun demikian, perjalanan ini sia-sia karena penginapan (logementen) itu telah sepi dan ditinggalkan musuhnya dan juga oleh penduduknya, yang lari menuju daerah pegunungan. Dengan demikian, pada 30 September, Kapten Wesdorp diperintahkan untuk pergi membawa pasukan garda depan atau bernama avant-garde menuju Desa Gerih, sebuah desa yang masih ada sampai sekarang atau sekarang di Kecamatan Geneng, di dekat Kali Trinil atau Kali Gerih. Desa ini berada di jalan besar Maospati-Ngawi, dekat dengan perbatasan Magetan dan Ngawi.

Pasukan ini lain yang dipimpin oleh Hurdt, termasuk di dalamnya pasukan dari Kerajaan Mataram bergerak melanjutkan perjalanan pada 2 Oktober dari Kapo atau Kawuk ke arah tenggara.

Pasukan ini melewati banyak anak sungai dan Kali Bagaal, atau yang diduga sebagai Kali Begal, yang merupakan daerah tak berpenghuni. Hurdt menyebutkan bahwa daerah ini merupakan dataran luas berupa tanah yang liar dan tidak ditanami, serta tidak dapat ditemukan desa. Rombongan pasukan kemudian sampai di Kali Kacitan, mungkin yang dimaksud adalah Kali Katikan, hingga menyeberangi Kali Ketonggo.

Sungai terakhir yang dilewati pasukan berada tujuh kilometer sebelah barat Kali Katikan, yaitu anak sungai utama Kali Madiun yang di bagian dalamnya banyak buaya dan kaiman atau dapat dikatakan sebagai buaya kecil dengan kepala lebih pendek dan gepeng. Oleh sebab itu, pasukan mencari tempat yang alirannya dangkal untuk melewati sungai ini.

(Awaludin)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement