Sadikin dan Soedarsono dipercaya memegang Jakarta Pusat. Sambas Atmadinata dan Sanusi Wirasuminta memegang wilayah Jakarta Timur.
Lantaran menjadi target PKI untuk dihabisi, Hasibuan selalu hidup berpindah-pindah. Barang-barangnya juga banyak hilang atau mungkin dia hilangkan. Lagi pula, dia seorang dengan pribadi yang tidak suka menonjolkan diri.
Hasibuan sempat menjadi Ketua Dewan Pimpinan Rakyat Daerah Sementara (DPRDS) pertama melalui Partai Masyumi Cabang Bekasi, tahun 1950-1956.
Mayor TNI AL Matmuin Hasibuan lahir di Hutapadang, Sipirok Tapanuli Selatan, sekitar tahun 1922. Kini, kampung Hutapadang bagian dari Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara.
Wafat pada 1961 karena sakit paru-paru. Makam tokoh penting Hasibuan ini ternyata tidak dimakamkan di taman makam pahlawan tapi berada di pemakaman wakaf yang letaknya di belakang Masjid Agung Al-Barkah Bekasi, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi.
Madmuin Hasibuan lahir dari pasangan H. Muhammad Yunus (Tuan Syeikh) dengan istri, Dorima Siregar memiliki enam orang anak secara berurutan, yaitu, Matrahim Hasibuan, Matnuin Hasibuan, Masai Hasibuan, Ruhut Hasibuan (prempuan). Kemudian Sarianun Hasibuan dan Hamidah Hasibuan.