JAKARTA - Kontroversi yang cukup menghebohkan tengah melanda Indonesia akibat ajaran yang dinilai menyimpang dari ajaran Islam yang disebarkan oleh Panji Gumilang, seorang pimpinan dari Pondok Pesantren Al-Zaytun di Indramayu. Dalam beberapa pekan terakhir, kasus ini banyak menuai pro dan kontra di berbagai kalangan.
BACA JUGA:
Salah satu yang membuat heboh publik adalah besarnya kebutuhan dana untuk operasional Pondok Pesantren Al-Zaytun. Panji Gumilang mengungkap dalam satu tahun Pondok Pesantren Al-Zaytun membutuhkan sebesar Rp120 miliar untuk dana operasional. Dia menyebut dana tersebut didapat dari banyak sumber pemasukan tetapi dia tidak menyebut identitas yang menjadi donatur Pondok Pesantren Al-Zaytun.
Panji menyebutkan salah satu cara mendapatkan dana tersebut dengan menjual beras. Dalam setahun Al-Zaytun dapat menghasilkan tiga kali lipat dari yang dibutuhkan internal Pondok Pesantren. Tak hanya itu, Panji pun menargetkan penerimaan 750 santri baru setiap tahunnya untuk menunjang kebutuhan operasional Al-Zaytun agar tetap stabil. Pasalnya, dana dari penerimaan santri baru tersebut sangat besar sekitar Rp53 juta per orang. Kemudian, ada pula kucuran dana BOS dari Kementerian Agama senilai Rp4 miliar per tahun karena jumlah santri yang melebihi 5 ribu orang.
BACA JUGA:
Lantas, selain dari yang disebutkan dari mana lagi sebenarnya Panji Gumilang mendapatkan begitu banyak uang untuk menjalankan Al-Zaytun? Kira-kira, apakah benar dana tersebut berasal dari hasil kerja keras bersama teman-temannya dan dia pantang menerima dana dari pihak eksternal? Kami akan membahasnya secara tuntas dan eksklusif dalam dialog utama The Prime Show with Aiman, langsung bersama narasumber-narasumber terkait.