Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Sastrawan Iwan Simatupang, Lawan Tangguh Lekra yang Tak Gentar dengan Ancaman

Solichan Arif , Jurnalis-Sabtu, 08 Juli 2023 |07:11 WIB
Sastrawan Iwan Simatupang, Lawan Tangguh Lekra yang Tak Gentar dengan Ancaman
Iwan Simatupang (Foto: Repro)
A
A
A

IWAN Simatupang, sastrawan kelahiran 18 Januari 1928 di Sibolga, Sumatera Utara. Iwan memilih ikut membubuhkan tanda tangan manifesto kebudayaan (Manikebu) saat Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), underbow Partai Komunis Indonesia lagi kuat-kuatnya.

Manikebu dengan Humanisme Universal berada di satu kutub. Sedangkan Lekra yang mengusung Realisme Sosialis di kutub lain. Dua lembaga kebudayaan pada masa orde lama yang saling terkam, saling sikut.

Namun, Iwan Simatupang tak pernah gentar dengan ancaman Lekra: tahun pembabatan. Dalam surat politiknya 1964 -1966 kepada B Soelarto, sastrawan asal Yogya, Iwan menegaskan dirinya seorang nasionalis.

“Kau tahu, aku nasionalis, bekas pejuang (Komandan TRIP Sumatera Utara), anti kapitalis, anti (sok) sosialisme kanan, tetapi sebaliknya: tegas-tegas menentang setiap paham, doktrin, ideologi, yang (mencoba) merongrong keutuhan dari keagungan manusia!.”

Iwan Simatupang, seorang pembaharu sastra Indonesia. Kelahiran Ziarah, Merahnya Merah, Kering, Kooong, dan kumpulan cerpen Tegak Lurus dengan Langit, sontak menyentak semua. Ia menyebut karyanya sebagai novel masa depan.

Kisah-kisah yang dibangun Iwan Simatupang tidak memberikan ruang lapang untuk pahlawan. Juga tak bertema sekaligus tak mempedulikan moral. Tokoh utamanya selalu laki-laki. Tokohnya selalu tak beridentitas atau nama pribadi, kecuali sebutan profesi atau alias.

Iwan Simatupang juga lebih menyukai frase panggilan “tokoh kita”. Ada tokoh kita di cerita Ziarah. Begitu juga di kisah Merahnya Merah dan lainnya. Karya Iwan Simatupang dianggap ganjil dan menuai banyak pujian sekaligus kecaman.

Mungkin semua itu dipengaruhi filsafat eksistensialisme dan fenomenologi yang dianutnya.

“Sastrawan ini secara kontroversial telah mengguncang dunia kesusasteraan Indonesia modern menjelang akhir dekade 1960-an dengan novel-novelnya,” tulis Kurnia Jr dalam buku “Inspirasi? Nonsens!, Novel-novel Iwan Simatupang”.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement