Dia juga menyarankan Soekarno untuk tidak mengenakan seragam militer dalam berbagai kegiatan agar memberikan teladan dengan tetap mengenakan pakaian sipil. Namun, saran itu juga tak diindahkan oleh Soekarno yang kerap mengenakan seragam militer dalam berbagai acara negara.
Perseteruan dua tokoh penting Indonesia ini semakin terlihat ketika penentuan visi angkatan perang.
Pada 1952, Soekarno memberikan dukungannya pada Kolonel Bambang Soepeno untuk menggantikan Nasution dari kedudukan Kepala Staf Angkatan Darat. Namun, dukungan itu rupanya diberikan tanpa sepengetahuan Simatupang selaku KSAP (Kepala Staf Angkatan Perang).
Hal ini memicu kemarahan TB Simatupang, yang sempat menggebrak meja dalam sebuah pertemuan dengan Soekarno. Dia mengungkapkan kekecewaannya atas tindakan Soekarno yang ikut campur dalam urusan internal ABRI.
Sikap Simatupang ini membuat Soekarno marah besar.
Buntut dari konflik TB Simatupang dan Soekarno ini terjadi pada 17 Oktober 1952 dimana Angkatan Darat mendesak Soekarno membubarkan DPRS, salah satunya dengan mengarahkan moncong meriam ke Istana.
Simatupang akhirnya dicopot dari jabatannya sebagai KSAP. Dia dibiarkan bekerja tanpa jabatan dan hanya berkedudukan sebagai penasihat Menteri Pertahanan hingga dipensiunkan dini.
Meski sempat berkonflik dengan Soekarno, pada 2013 TB Simatupang menerima gelar pahlawan nasional dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.