Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Kumpul Kebo Serdadu KNIL dengan Wanita Pribumi di Tangsi Militer

Awaludin , Jurnalis-Rabu, 26 Juli 2023 |06:01 WIB
 Kisah Kumpul Kebo Serdadu KNIL dengan Wanita Pribumi di Tangsi Militer
Illustrasi (foto: dok ist)
A
A
A

KUMPUL KEBO, terjadi di lingkungan militer KNIL (Koninklijke Nederlands Indische Leger) masa Pemerintahan Hindia Belanda. Seorang serdadu KNIL dibolehkan memiliki nyai atau perempuan simpanan di dalam tangsi militer. Setiap usai bertugas, tentara dipandang butuh dilayani.

Mereka perlu perempuan untuk mengurus pakaian, senjata, makanan, bersih-bersih ruangan, hingga layanan di atas ranjang. Bagi KNIL, praktik pergundikan atau kumpul kebo tersebut tak perlu dilarang karena menguatkan mental tentara.

Jenderal Haga, pemimpin KNIL dalam suratnya kepada Menteri Penjajahan L.W.Ch Keuchenius tahun 1887 menyebut, pelarangan pergundikan justru hanya akan menimbulkan kerugian. Ketidakhadiran para perempuan di tangsi militer justru akan membuat para serdadu mengalami rasa kehilangan yang besar.

“Pelarangan pergundikan tangsi pasti akan memberi pengaruh yang merugikan dalam merekrut para Pribumi dan orang-orang Ambon,” tulis Jenderal Haga seperti dikutip dari buku Nyai & Pergundikan di Hindia Belanda.

Pada tahun 1898, jumlah tentara KNIL di Hindia Belanda sebanyak 42.000 orang. Sebanyak 18.000 orang diantaranya adalah serdadu Eropa dan selebihnya merupakan tentara pribumi. Di dalam tangsi militer, mereka memiliki julukannya sendiri.

Serdadu Eropa berjuluk Jan Fuselier atau tentara bersenjata. Sedangkan serdadu pribumi dipanggil Kromo. Sementara Sarina adalah julukan perempuan yang hidup di dalam tangsi.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement