Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Pangeran Diponegoro Lakukan Perjalanan Laut dengan Penuh Derita, Ikhlas jika Harus Meninggal

Susi Susanti , Jurnalis-Jum'at, 28 Juli 2023 |07:01 WIB
Kisah Pangeran Diponegoro Lakukan Perjalanan Laut dengan Penuh Derita, Ikhlas jika Harus Meninggal
Pangeran Diponegoro (Foto: Istimewa/Okezone)
A
A
A

JAKARTAPangeran Diponegoro melakukan perjalanan melewati lautan dengan penuh derita. Kala itu, Pangeran Diponegoro dikawal oleh ajudan Van den Bosch, Letnan Dua Knoerle, perwira berdarah Jerman.

Semua kisah duka dan kesakitan Pangeran Diponegoro tertuang dalam catatan harian Knoerle. Menurut catatan itu, dalam lima hari pertama pelayaran, empat dari 50 anggota pasukan yang ditugaskan mengawal Diponegoro meninggal dunia. Upacara penguburan dengan pasukan kehormatan berjalan lambat. Bunyi genderang pengiring upacara terdengar dengan jelas di kamar Pangeran yang letaknya di bawah geladak belakang kapal.

Sejarawan Peter Carey, penulis buku ‘P.Diponegoro, Takdir dan Kuasa Ramalan’, mengatakan Pangeran Diponegoro terbaring lemah karena demam malaria, ditambah muntah-muntah karena mabuk laut, menunjukkan bahwa kondisi kesehatan Pangeran semakin memburuk. “Setelah seminggu berlayar, Pangeran berkata kepada Knoerle bahwa ia sudah ikhlas untuk mati," terangnya.

Akan tetapi Pangeran belum berada di ambang maut. Setelah demamnya mereda, Pangeran menunjukkan minat pada apa saja yang ia lihat di kapal. Ilmu bumi kawasan Indonesia timur sangat menarik perhatiannya.

Ia bertanya, seberapa jauh Ambon dari Manado? Apakah Manado jauh dari Makassar atau “Tanah Bugis”? Bolehkah dia melihat peta “Makassar”, yang sempat ia lihat dari dek depan, sehingga ia bisa lebih memahami lagi bentuk pulau Sulawesi.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement