Saat Knoerle berkeberatan dan mengatakan bahwa satu-satunya peta yang ada di kapal hanya diperuntukkan bagi keperluan navigasi pelayaran, Pangeran tetap gigih bertanya. Ia ingin tahu tentang rute laut ke Jeddah; apakah pantai-pantai Sulawesi dapat dilayari; dan bagaimana penduduknya?
Berondongan pertanyaan Pangeran, yang kadang menarik kadang menjengkelkan, jelas menguji kesabaran Knoerle. Pada pukul dua dinihari, tanggal 14 Mei, ketika badai hebat sedang melintasi gunung Muria di Jepara menuju ke laut, Diponegoro tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya dan berteriak-teriak memanggil saya agar datang menghampiri; [memerintahkan agar] komandan kapal korvet seharusnya segera membuang jangkar!.
“Hari berikutnya Pangeran mengomel terus dengan permintaan yang bukan-bukan, padahal laut sangat tenang namun hari terasa sangat panas, kami sedang berada dekat pantai Lasem” Pemandangan garis pantai Laut Jawa itu rupanya mengiris-iris hati Pangeran,”
Namun, Pangeran yang sama ini jugalah yang setiap hari tetap mengiriminya nasi dari meja makannya dan mengundangnya untuk sarapan pagi bersama dengan menu kentang, sambal, teh hitam, dan biskuit kapal sambil duduk-duduk di tikar jerami yang lebar.
Pangeran yang sama ini pun tertarik dengan gambar-gambar dalam buku-buku dan almanak yang dipinjamkan Knoerle, dengan ditemani anggur Sungai Rhine (Jerman) dan anggur dari Tanjung Harapan yang didapat para pengawal dari para perwira kapal, yang memberikannya dengan enggan sebagai “obat” untuk keinginan yang mendadak timbul untuk mencicipi anggur.