GUBERNUR Jawa Timur pertama, Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo, gugur akibat korban keganasan gerombolan PKI, jelang meletusnya Madiun Affair, atau saat ini lebih dikenal sebagai pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) Madiun 1948.
Kala itu, Gubernur Soerjo dibantai dalam perjalanan pulang dari Yogyakarta, pada 10 September 1948. Ketika itu di sebuah hutan sekitar Kedunggalar, Ngawi, mobil Gubernur Soerjo dicegat gerombolan Front Demokrasi Rakyat (FDR/PKI).
Dalam beberapa literatur, disebutkan gerombolan itu dipimpin Maladi Yusuf. Dalam saat yang sama, tidak hanya Gubernur Soerjo yang ikut jadi korban. Disebutkan dua perwira polisi, Kombes M. Doerjat dan Kompol Soeroko ikut menjadi korban. Ketiganya jadi korban acak PKI yang memang mengincar orang-orang pemerintahan. Gubernur Soerjo sendiri kala itu sudah menjabat Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung sejak 1947.
“(Soerjo dan M. Doerjat) adalah random victim. Mereka (PKI) menghajar orang-orang pemerintah,” tutur penggiat sejarah Roode Brug Soerabaia, Ady Erlianto Setiawan kepada Okezone beberapa waktu lalu.
“Termasuk Kombes M. Doerjat yang dicegat pada saat bersamaan. Pak Soerjo dari arah Yogya ke Surabaya, Kombes Pol M. Doerjat dari Surabaya ke Yogyakarta. Ketiganya diseret masuk ke dalam hutan untuk dihabisi nyawanya,” sambungnya.
Mayat ketiganya baru ditemukan empat hari setelah kejadian oleh seorang pencari kayu bakar di Kali Klalah, Dukuh Ngandu, Desa Bangunrejo Lor, Kecamatan Kedunggalar, Ngawi.
Setelah ditemukan, jasad Gubernur Soerjo dikebumikan di tanah kelahirannya, di Magetan, tepatnya di Kompleks Makam Sasono Mulyo, Sawahan, Magetan, Jatim. Gelar pahlawan nasional disematkan padanya lewat Keppres No.294 tanggal 17 November 1964.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.