Dukungan orang tua juga menjadi penentu dalam peningkatan pendidikan Angkie. "Aku belajar apa adanya sehingga membuat orang tuaku yang selalu mendukung apapun keputusan aku... aku bisa sampai S2 alhamdulillah dan itu diizinin penuh sama orang tua aku," ujarnya.
Dalam hal ini, orang tua berperan sebagai fasilitator dalam memenuhi kebutuhan pendidikan anak mereka. Dari pengalaman pribadinya, Angkie belajar bahwa kemajuan individu sangat tergantung pada kepercayaan dan dukungan dari orang tua.
"Kita bisa maju ketika orang tua itu percaya sama kita," ucapnya.
Dengan dukungan dan kepercayaan orang tua, individu berkebutuhan khusus bisa mengeksplorasi potensi mereka dan berpartisipasi dalam masyarakat.
Di masa depan, Angkie berharap untuk berkontribusi dalam bidang edukasi. Menurutnya, permasalahan utama penyandang disabilitas adalah kualitas pendidikan. "What the next, aku ingin berada di bidang edukasi dan berharap mungkin suatu saat mungkin aku punya lembaga pelatihan," tuturnya.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa Angkie melihat pendidikan sebagai kunci utama untuk membantu penyandang disabilitas mengembangkan kapabilitas mereka dan mendapatkan pekerjaan yang layak.
Ia juga mengakui peran penting edukasi dalam membantu penyandang disabilitas untuk meraih derajat yang lebih tinggi dan menjadi lebih dewasa dalam berpikir, bersikap, dan bertindak.
Dalam perjalanannya, Angkie telah mengalami banyak tantangan dan pencapaian. Namun, ia tetap mengakui bahwa peran orang tua dan pelajaran positif yang didapatkannya adalah faktor kunci dalam mencapai apa yang telah ia capai. Dengan semangat dan keberanian ini, Angkie berkomitmen untuk terus mendorong hak dan kesejahteraan penyandang disabilitas di Indonesia.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.