NAMA Mpu Winada dalam sejarah Kerajaan Majapahit mungkin tak banyak orang yang tahu. Sosok Mpu Winada sendiri hidup satu zaman dengan pujangga sastrawan terkemuka di Majapahit kala itu Mpu Prapanca.
Sosok Mpu Winada merupakan penganut agama Buddha yang tak layaknya sosok Mpu Prapanca. Prapanca merupakan satu dari sekian sastrawan yang menggambarkan kehidupan Kerajaan Majapahit di masa Hayam Wuruk bertahta. Ia juga menjadi seorang pemeluk agama Buddha.
Sayang saat itu konon agama Buddha agak dikesampingkan oleh Rajasanagara atau Hayam Wuruk. Buktinya hilangnya arca Aksobya yang tersimpan di salah satu bangunan suci Buddha di wilayah Kerajaan Majapahit.
Sosok Mpu Winada sendiri dikisahkan pada "Menuju Puncak Kemegahan : Sejarah Kerajaan Majapahit" ingin disamai dalam pupuh yang ditulisnya. Mpu Winada dalam pupuh 97 Negarakretagama tidak ada hubungannya dengan Mpu Nada sebagai nama pejabat pembesar yang mempunyai gelar dang âcârya pada piagam yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Poerbatjaraka.
Siapa Mpu Winada diungkap Slamet Muljana, sosoknya diceritakan jelas oleh Mpu Prapanca. Konon Winada adalah orang yang semula senang mengumpulkan harta benda, tetapi tidak berbahagia karenanya. Bahkan hidupnya malah sengsara.
Kemudian ia membagikan segala hartanya kepada orang lain lalu pergi bertapa. Ia ingin menjadi pahlawan dalam tapa brata. Empu Winada adalah pemeluk agama Budha. Pendeta yang sangat baik sikapnya dan putus dalam ilmu itu diberi nama Winada oleh Prapanca, sedangkan kata winada artinya "tercela".
Demikianlah, Prapanca mengadakan sindiran dengan menggunakan kata winada sebagai nama pendeta Budha. Ia sendiri ingin menjadi seperti empu Winada. Demikianlah sesungguhnya Prapanca juga termasuk golongan orang yang dicela.
Ini terbukti dari pupuh 95/1 baris 1, di mana ia berkata: "Nasib badan dihina oleh bangsawan, hidup canggung di dusun", yang dimaksud dengan winada ialah pemeluk agama Budha. Jumlahnya banyak, karena pupuh 98/1 baris 4 memuat kata para winada cinala ri dalìm, orang-orang yang dicacat dan dicela di istana. Timbulnya celaan karena perselisihan.
Justru karena jelas sekali pada baris tersebut dengan adanya kata ri dalen (di istana), maka perselisihan itu terjadi antara pemeluk agama Budha dan agama Siwa. Maklumlah, agama Siwa adalah agama negara pada zaman pemerintahan Hayam Wuruk. Prabu Hayam Wuruk adalah pemeluk agama Siwa.
Begitulah, Prapanca sebagai pembesar urusan agama Budha di kerajaan Majapahit menjadi korban perselisihan agama Budha dan Siwa. Dari sudut ini kita sekarang dapat memahami mengapa Prapanca meninggalkan istana, hidup di dusun, kemudian bertapa di lereng gunung di desa Kamalasana.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.