ARIA Tadah menjadi satu dari beberapa Patih Amangkubumi semasa Kerajaan Majapahit. Sosoknya menjadi orang kepercayaan di masa Jayanagara dan penguasa perempuan pertama di Kerajaan Majapahit yakni Tribhuwana Tunggadewi.
Di masa Tribhuwana Tunggadewi, Aria Tadah menjadi orang kepercayaan sang ratu untuk memberikan masukan dan nasehat dalam menjalankan pemerintahan Majapahit. Pentingnya peran Aria Tadah ini, seperti menyerupai jabatan wakil presiden di era saat ini. Sosoknya begitu sentral di istana Majapahit.
Namun, semasa menjadi pejabat penting di Kerajaan Majapahit, Prof. Slamet Muljana pada bukunya "Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit" dikisahkan Aria Tadah sering sakit pada tahun saka 1251 atau 1329 Masehi sehingga tidak bisa menghadap sang raja.
Aria Tadah pun mengajukan diri untuk mundur dari jabatan pentingkan sebagai patih amangkubhumi, tetapi hal itu ditolak oleh Tribhuwana Tunggadewi. Aria Tadah merasa selama dirinya sakit ia bukan menjadi orang tepat untuk memegang jabatan patih amangkubhumi.
Orang yang tepat menjadi patih amangkubhumi dikatakan Aria Tadah yakni Gajah Mada. Pertimbangannya karena jasa-jasanya baik kepada Jayanagara saat menjabat raja dan kepada Tribhuwana Tunggadewi.
Aria Tadah sempat mendekati Gajah Mada dan membujuknya agar Gajah Mada bersedia menjadi patih, tetapi bukan patih amangkubhumi. Aria Tadah memberikan kesanggupan bila harus membantu Gajah Mada. Namun, Gajah Mada mengaku tak ingin memikirkan jabatan itu sampai kembalinya dari Sadeng.
Kakawin Pararaton menyatakan, pengepungan Sadeng yang membuat Gajah Mada kecewa karena mendengarnya. Kembar yang mendahului mengepung Sadeng, membuat para menteri araraman dan patih amangkubhumi sangat marah.