PADA Pemilu 1955, Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi primadona baru bagi masyarakat Malang. Bahkan ratusan ribu simpatisan menghadiri pertemuan massal di Malang.
Rapat-rapat akbar itu sebelum meletusnya peristiwa 30 September 1965 atau G30SPKI.
Beberapa waktu silam, sejarawan Malang Faishal Hilmy Maulida mengungkapkan, momen bersejarah melonjaknya PKI di Malang pada 1955. Jelang Pemilu tahun itu, PKI masih menggelar rapat akbar.
"Pertemuan akbar di Malang itu klaimnya harian rakyat di alun-alun kurang lebih 200 ribu hadir, dihadiri oleh anggota PKI komunis Australia," ucap Faishal Hilmy Maulida kepada MNC Portal.
Saat itu sempat terjadi ketegangan antara pimpinan PKI DN Aidit dengan pimpinan Partai Masyumi Hasan Aidid di Malang.
"Sempat terjadi kericuhan rombongan Hasan Aidid dari Masyumi Surabaya, bertemu rombongan DN Aidit karena mereka beradu makian. Ini kejadian yang menarik dan kejadian besar saat itu, karena memang suasananya menjelang pungutan suara tahun 1955," tutur dosen Sejarah di Binus University Malang ini.
Saat itu, ia menjelaskan, media memberitakan kronologi penyebab yang berbeda. Media yang terafiliasi PKI menyebut Hasan Aidid yang menjadi penyebabnya lantaran sengaja datang merusak rapat akbar PKI di Malang. Namun, versi lain menyebutkan adanya provokasi yang dilakukan pimpinan PKI saat rapat akbar di Malang.
Menurut Faishal, pemimpin PKI memilih menyiasati langsung turun ke masyarakat menjelang Pemilu 1955. Hal ini membuat masyarakat merasa simpati dan mudah untuk direbut hatinya.
"Para pemimpin mereka mau turun langsung ke wilayah terutama menjelang pemilihan. Berikutnya tanggal 29 Oktober pemilihan DPRD di Jawa timur jadi Pimpinan partai turun langsung, Aidit ke Lumajang, Lukman ke Surabaya dan lain - lain. Aidit memberikan rapat akbar di Lumajang, Lukman ke Surabaya dan sebagainya," terangnya.
Suguhan karnaval dan pertunjukan seni membuat warga di Malang juga turut tertarik untuk mendukungnya. Selebaran-selebaran dengan logo PKI juga menjadi propaganda PKI di setiap daerah.
"Di setiap acara ada hiburan-hiburan, karnaval-karnaval agar menarik orang mencoblos partai ini. Kemudian mereka juga sangat aktif dalam menyebarkan selebaran-selebaran yang di setiap selebaran, selalu menonjolkan logo partai yang lebih besar daripada narasinya termasuk membuat karnaval-karnaval," paparnya.
Setiap karnaval PKI yang ditonjolkan adalah simbol-simbol palu arit, karena masyarakat masih umumnya masih buta huruf latin, jadi orang yang tahu logonya ini familiar dilihat mata ya pasti akan dicoblos.
(Erha Aprili Ramadhoni)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.