PRESIDEN kedua Indonesia Soeharto diminta menikah oleh kerabatnya. Pasalnya, usianya yang sudah terbilang cukup bahkan lebih untuk membina rumah tangga. Siti Hartinah atau yang dikenal sebagai Ibu Tien pada akhirnya yang menjadi jodoh Pak Harto.
Orang tua Siti Hartinah, yakni Pak Soemoharjomo dan Ibu Hatmanti ternyata bersedia menerima Soeharto. Setelah Ibu Prawiro mendapatkan seseorang yang bertindak lebih dahulu sebagai perantara.
Maka kemudian upacara “nontoni”, pertemuan antara yang akan melamar dan yang dilamar; dilangsungkan. Agak kikuk juga sebab sudah lama Soeharto tidak melihat Hartinah yang dikenal sebagai Ibu Tien dan keragu-raguan masih ada pada Soeharto, apakah dia akan benar-benar suka kepada saya.
"Dalam pada itu saya ingat, sudah ada pertanda baik, yakni mereka semua suka menerima kami. Itu artinya lampu hijau bagi kami. Ternyata pula suasana dalam upacara, 'nontoni' itu baik sekali sehingga tidak diperlukan waktu lama, untuk kemudian langsung merundingkan soal waktu," demikian penuturan Presiden Soeharto, dikutip dari buku “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya” yang ditulis G Dwipayana dan Ramadhan KH, diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta, tahun 1982.
“Ini rupanya benar-benar jodoh saya,” pikir Soeharto.
Dan jodoh itu sama seperti lahir dan ajal, menurut orang tua-tua kita. Kemudian Soeharto tahu bahwa sewaktu kami berkunjung ke rumah mereka itu, Hartinah baru saja sembuh dari sakit selama sebulan.