JAKARTA - Saat situasi politik nasional semakin memanas, yang ditandai dengan perlawanan terhadap rezim Soeharto oleh kelompok mahasiswa dan kelompok oposisi pada 1998. Salah satu perlawanan dilakukan oleh mahasiswa, Savic Ali. Pemuda kelahiran 1974 ini bersama aktivis mahasiswa 1998 dan kelompok oposisi lainnya, memilih berada di depan, menentang kekuasaan Soeharto hingga akhirnya menumbangkannya.
"Saya pertama kali aktif sebelum Forum Kota (Forkot) terbentuk, hingga terlibat demonstrasi-demonstrasi besar seperti pendudukan DPR dan setelah Soeharto jatuh," Savic mengingat lagi peristiwa puluhan tahun silam saat berstatus aktivis mahasiswa, seperti dilansir dari BBC News Indonesia, Rabu (13/9/2023).
Lalu, Savic terlibat lebih jauh dalam aktivitas mengkampanyekan nilai-nilai Islam moderat untuk menangkis penyebaran nilai-nilai anti toleran dan paham kekerasan yang menyebar melalui media online. Tiga media online yang dipimpinnya, NU online, NUtizen dan Islami.co, merupakan salah-satu pionir yang terus mengkampanyekan Islam moderat.
"Secara umum saya masih bersyukur dengan Indonesia hari ini," kata Savic ketika ditanya apa yang membedakan Indonesia saat ini dengan situasi ketika Suharto menjadi presiden.
"Karena, kita memiliki kebebasan yang tidak kita miliki saat itu." Dia secara terus terang menyebut Indonesia saat itu adalah negara totaliter. "Ibaratnya kita mau melakukan sesuatu, bisa dianggap salah dan ditangkap oleh negara," sambungnya.
Dia memberikan contoh nasib tapol 1965 yang "dipenjara tanpa pengadilan." Sebuah kenyataan yang tak lagi terlihat di masa sekarang, katanya menekankan.
Secara simbolis, dia mengibaratkan unjuk rasa mahasiswa yang dulu dihadang dihadan aparat TNI dengan senjata lengkapnya. "Sekarang orang bebas demo tanpa dihadang TNI."
Atmosfir kebebasan itulah yang membedakan dengan masa-masa ketika Suharto masih berkuasa. "Sekarang kita berdiskusi, mengkritik dan bahkan memaki-maki presiden di sosial media. Dulu memaki Pak Harto, bisa masuk penjara dan bahkan bisa 'dihilangkan'."
Tentu saja, Savic juga mengaku memendam rasa kecewa setelah dua puluh tahun reformasi. Dia dan teman-temannya dulu memimpikan setelah Suharto turun dari kursi presiden, itu bisa menjadi gerbang "tegaknya masyarakat yang adil, makmur dan beradab."
"Ini yang belum terwujud," kata Savic dengan intonasi pelan. Tetapi, sambungnya cepat-cepat, Indonesia sata ini jauh lebih beradab jika dibandingkan jaman Orba.
"Karena ada koridor hukum yang membatasi aparat negara. Kita juga lebih adil dibanding Orba. Karena di jaman itu, kalau ambil tanah, diambil saja dan rakyat diusir begitu saja."
"Sekarang, kalau ada pembebasan lahan, warga bisa negosiasi," tandasnya. Meskipun dia mengakui bahwa hukum belum bisa menjangkau para pihak yang memiliki kekuasaan lebih.
Savic juga mengakui saat ini ada masalah yang disebutnya "agak menganggu" adalah muncul dan menguatnya kelompok intoleran terhadap kelompok-kelompok minoritas.
"Yang ini di jaman Orba tidak terjadi, karena negaranya sangat kuat dan otoriter. Ngomong SARA sedikit ditangkap. Sekarang orang SARA di mana-mana."
Melihat kondisi seperti itu, pria yang memiliki latar organisasi Nahdlatul Ulama (NU) memilih tidak berpangku tangan. Bersama rekan-rekannya, dia terus mengkampanyekan nilai-nilai Islam moderat untuk menangkis penyebaran nilai-nilai anti toleran dan kekerasan.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.