JAKARTA - Presiden Soeharto menjalankan Opsus (Operasi Khusus) yang salah satu misinya membentengi negara dari bangkitnya komunisme pasca Gerakan 30 September 1965 (G30SPKI).
Opsus dikomandani Ali Moertopo. Ia bertugas mengawasi setiap gerak anasir komunisme, bahkan pergerakan yang dimungkinkan muncul dari negara lain. Tidak terkecuali Amerika dan sekutunya, Opsus juga diam-diam mengawasi.
“Termasuk Amerika dan sekutunya, sampai memantau perkembangan paham komunisme di Hong Kong,” demikian dikutip dari buku Legenda Pasukan Komando Dari Kopassus Sampai Operasi Khusus (2017).
Agen Opsus melakukan pemantauan dengan detail. Misalnya di Hong Kong, agen Opsus mengamati setiap perkembangan situasi dari berbagai sektor. Mulai dari budaya, sosial dan perekonomian.
Perkembangan komunis diamati melalui berbagai pagelaran seni, memantau isu media massa, termasuk melibatkan diri ke dalam berbagai diskusi publik. Adapun pembentukan Opsus sendiri karena PKI memiliki pengalaman sejarah jatuh dan bangkit.
PKI pernah kembali bangkit pasca peristiwa pemberontakan November 1926 yang gagal. Kemudian, bangkit kembali pasca peristiwa Madiun September 1948. Bahkan, PKI menjadi partai politik dengan perolehan suara empat besar pada Pemilu 1955, yakni bersaing dengan PNI, Masyumi dan NU.
Opsus juga dilakukan di dalam negeri. Selain itu, juga dilakukan penggalangan berbagai kekuatan sosial politik guna mengokohkan kekuasaan Presiden Soeharto. Sementara kekuatan sosial politik Nasakom (Nasionalis, Agama dan Komunis), yakni sisa warisan rezim Soekarno, tidak dibiarkan berkembang. Termasuk sisa-sisa kekuatan DI/TII dan PRRI/Permesta juga turut dijinakkan.
“Operasi-operasi ini juga untuk menjamin kelompok-kelompok yang melawan pemerintah tidak memegang kendali organisasi yang masih dapat menghimpun dukungan besar”.
Opsus yang dipimpin Ali Moertopo secara organisasi berbeda dengan Bakin (Badan Koordinasi Intelijen Negara). Anggota opsus terbagi dua, yakni anggota organik yang berasal dari perwira aktif dan anggota jejaring yang direkrut dari aktivis, mahasiswa, tokoh agama dan pengusaha.
Operasi intelijen yang dilakukan Opsus, bukan di medan perang sebagaimana wilayah Bakin. Gerak Opsus lebih pada pengumpulan beragam informasi, menyusun, memberi masukan Soeharto sekaligus menyelesaikan dan menjalankan perintah Soeharto.
Ali Moertopo pun bebas bertindak cepat karena berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Soeharto. “Ia bisa pergi ke semua pejabat tinggi karena mengatasnamakan Soeharto”.
Sumber dana Opsus baik di luar negeri maupun di dalam negeri berasal dari sumbangan para pengusaha. Di antaranya, Ibnu Sutowo yang memimpin Pertamina. Selain dari para pengusaha besar, untuk mendanai kegiatannya, Opsus juga mendirikan sejumlah perusahaan.
Salah satu perusahaan bernama PT Garuda Mataram menjadi agen tunggal Volkswagen. “Sebuah perusahaan yang dibentuk dari aset-aset rampasan periode Demokrasi Terpimpin”.
Perusahaan lain yang dibentuk Opsus adalah bergerak di bidang bisnis unggas dan perakitan peralatan elektronik. Melihat Opsus lebih prestisius dari Bakin, dan mulai muncul konflik kepentingan antar intel dalam Bakin, Panglima Pangkopkamtib Jenderal Soemitro mengambil sikap.
Ia mengusulkan kepada Presiden Soeharto membubarkan Opsus dan Kopkamtib. Dalihnya, organ intelijen itu dibentuk dalam situasi tidak normal. Sementara pasca Pemilu 1971 keadaan sudah normal, kehidupan politik sudah dapat dikendalikan dan bahaya sudah lewat.
Ali Moertopo dipandang Soemitro sudah waktunya lepas dari Opsus agar Bakin selaku lembaga intelijen resmi bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Namun, Soeharto itu menyatakan tidak setuju Opsus dan Kopkamtib dibubarkan.
“Belum saatnya, jangan dulu,” kata Soeharto seperti dikutip dari Legenda Pasukan Komando Dari Kopassus Sampai Operasi Khusus.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.