JAKARTA- Mengulik asal usul tongkat sakti milik Presiden Soekarno yang bukan sembarang kayu. Tongkat ini memang menjadi ciri khas presiden pertama Indonesia.
Hal itu bisa terlihat dari berbagai dokumen peninggalannya, di mana dia selalu mengapit tongkat pada banyak kesempatan selama menjadi orang nomor satu di Indonesia.
Mengutip berbagai sumber, Kamis (21/9/2023), tongkat tersebut ramai dibicarakan lantaran dianggap memiliki kesaktian dan sudah digunakan Soekarno sejak 1952. Tepatnya setelah peristiwa demonstrasi 17 Oktober 1952.
Bahkan dalam buku Roso Daras yang berjudul 'Soekarno, Serapihan Sejarah yang Tercecer' dijelaskan bahwa dia memiliki tiga Tongkat Komando dengan bentuk sama.
Tongkat tersebut digunakan untuk acara berbeda seperti saat keluar negeri, berhadapan dengan para Jenderalnya, dan selalu dia bawa saat berpidato.
Tongkat berukuran 53 cm lebih itu dikatakan terbuat dari kayu pucang kalak, memiliki kesaktian secara alami dan memiliki energi karismatik yang tinggi. Tak heran jika Soekarno lebih berkarisma dan berwibawa.
Pucang adalah jenis kayu, sedangkan Kalak adalah nama tempat di selatan Ponorogo atau utara Pacitan. Di pegunungan Kalak terdapat tempat persemayaman keramat. Di atas persemayaman itulah tumbuh pohon pucang.
Pada penulis biografinya Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Cindy Adams, Soekarno berkata bahwa tongkat komandonya itu tidak memiliki daya sakti atau daya linuwih.
"Itu hanya kayu biasa yang aku gunakan sebagai bagian dari penampilanku sebagai pemimpin dari sebuah negara besar", kata Soekarno kepada Cindy Adams pada suatu saat di Istana Bogor.
Dalam biografi itu diceritakan, pernah pada suatu saat dalam pertemuannya dengan Presiden Kuba, Fidel Castro, Castro memegang tongkat Bung Karno dan bercanda,
"Apakah tongkat ini sakti seperti tongkat kepala suku Indian..?? "
Soekarno hanya tertawa saja mendengar pertanyaan itu.Sayangnya, masyarakat begitu percaya bahwa tongkat Soekarno bukanlah sembarang tongkat, tapi tongkat sakti berisi keris pusaka ampuh. Apalagi ketika ada peristiwa di mana Soekarno ditembak dari jarak dekat saat salat Idul Adha.
Tembakan itu meleset dan inilah yang membuat heboh, bagaimana bisa penembaknya yang seorang jago perang terlatih, menembak dari jarak hanya 5 meter, tetapi tidak kena.
Di saat sidang pengadilan penembak Soekarno, sebuah pertanyaan tak terjawab. Apa yang dilihat penembak saat itu adalah Soekarno membelah diri menjadi dua. Keadaan inilah yang membuat bingung si penembak hingga akhirnya peluru jauh meleset tanpa mengenai Bung Karno.
(RIN)
(Rani Hardjanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.