Meski berdiri sebagai rival dan getol menyerang para sastrawan Lekra dan PKI, Iwan Simatupang tak segan melontarkan pujian. Pujian sekaligus kekhawatiran.
“Dan inilah tragedi kita kini, Larto!: genialitas dan brilyansi itu kini (hanya) ada di kalangan PKI. Ini fakta, lho! Sekiranyalah Aidit dan Njoto bukan di PKI, tapi misalnya di NU atau PNI, ya Allah: sejarah Tanah Air kita akan sangat berbeda, sangat berbeda”.
Kematian Corry pada 1960 membuat hati Iwan Simatupang hancur. Dalam dukanya Iwan mulai menggarap novel Ziarah. Pada manuskripnya ia torehkan kata persembahan untuk Corry. Iwan terus larut dalam duka dan menyebut diri sebagai manusia hotel. Karena alasan suka dan terpaksa, ia memilih mengurung diri di kamar Hotel Salak Bogor. Seluruh esainya lahir di kamar nomor 52.
Iwan Simatupang tutup usia pada 4 Agustus 1970 dalam keadaan kesulitan biaya hidup dan tak memiliki pekerjaan tetap. Ia mengembuskan napas terakhir di rumah saudari tuanya di Jakarta karena penyakit komplikasi.
(Erha Aprili Ramadhoni)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.