Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Apa Beda Pemberontakan PKI Madiun 1948 dan 1965?

Rina Anggraeni , Jurnalis-Selasa, 26 September 2023 |12:16 WIB
Apa Beda Pemberontakan PKI Madiun 1948 dan 1965?
Ilustrasi (Foto: Istimewa)
A
A
A

JAKARTA- Mengupas apa beda pemberontakan PKI Madiun 1948 dan 1965. Kedua peristiwa ini memiliki sejarah yang tidak akan terlupakan setelah kemerdekaan Indonesia.

Berikut ini perbedaan pemberontakan PKI Madiun 1948 dan 1965 dilansir dari berbagai sumber:

1. Waktu dan Tempat Berbeda

Peristiwa PKI Madiun terjadi pada tahun 1948, di Kota Madiun, Jawa Timur.

Sementara itu, Peristiwa G30S/PKI terjadi pada tanggal 30 September 1965, di Jakarta, yang merupakan ibu kota Indonesia.

2. Latar Belakang

Kedua, peristiwa ini memiliki penyebab dan latar belakang yang berbeda. Peristiwa PKI Madiun bermula dari ketegangan politik antara PKI dan pemerintah Republik Indonesia.

Di sisi lain, Peristiwa G30S/PKI memiliki latar belakang yang dipengaruhi oleh ketegangan politik dan ekonomi yang sedang melanda Indonesia pada saat itu. Presiden Soekarno yang memegang kendali pemerintahan menghadapi tekanan dari berbagai kelompok politik dan militer yang tidak puas dengan kebijakan-kebijakannya.

3. Punya Pemimpin Berbeda

Peristiwa pembrontakan PKI 1948 ini dipimpin oleh Musso. Pada tanggal 3 Agustus Musso yang baru pulang dari Uni Soviet kemudian mendirikan PKI muda. Musso yang saat itu mengecam kebijakan pada masa Kabinet Hatta kemudian melakukan pemberontakan terhadap pemerintah bersama dengan Amir Sjarifudin.

Sedangkan peristiwa G30S, dalang dan pemimpin penculikan Dewan Jenderal ini masih simpang siur. Namun, setelah periristiwa penculikan tersebut memang disebut-sebut bahwa PKI lah yang berada di balik peristiwa tersebut. D.N Aidit yang menjadi pemimpin PKI itu kemudian melakukan pelarian di beberapa daerah di Jawa Tengah, yang menjadi salah satu basecamp terbesar simpatisan PKI.

4. Jumlah Korban

Jumlah korban di Madiun saja, diperkirakan mencapai 1.920 orang, sementara di Magetan sekitar 108 orang. Sebagian dari para korban kekejaman PKI 1948 merupakan tokoh penting dan para ulama yang saat itu dianggap sebagai ancaman bagi PKI.

Sedangkan pada peristiwa G30S 1965 saat itu mengicar para perwira tinggi TNI. Sekitar tujuh perwira TNI dan seorang anak perempuan bernama Ade Irma Suryani yang merupakan putri dari Jendral A.H Nasution, gugur dalam perisitiwa tersebut. Ketujuh perwira TNI yang menjadi korban dalam peristiwa G30S PKI itu dikenang sebagai Pahlawan Revolusi.

5. Hasil Akhir

Peristiwa PKI Madiun berakhir dengan kekalahan PKI dan pemberontakannya oleh pemerintah Republik Indonesia yang didukung oleh militer.

Sedangkan, Peristiwa G30S PKI berakhir setelah D.N Aidit tertangkap di Solo, Jawa Tengah pada tanggal 22 November 1965. D.N Aidit yang tertangkap dibawa ke Boyolali. Kemudian ia dieksekusi di depan sebuah sumur tua yang berlokasi di belakang Markas Batalyon 444, Boyolali.

(RIN)

(Rani Hardjanti)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement