Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Desas-Desus Dewan Jenderal dan Tudingan Kudeta Jelang G30SPKI

Erha Aprili Ramadhoni , Jurnalis-Jum'at, 29 September 2023 |05:20 WIB
Desas-Desus Dewan Jenderal dan Tudingan Kudeta Jelang G30SPKI
Desas-desus Dewan Jenderal dan tudingan kudeta jelang G30SPKI. (Ist)
A
A
A

JAKARTA - Isu Dewan Jenderal muncul sekaligus menghebohkan dalam peristiwa G30SPKI atau Gerakan 30 September 1965. Menyeruaknya kabar Dewan Jenderal dan dipastikan TNI Angkatan Darat hal itu tidak ada, sempat membingungkan rakyat.

Dewan Jenderal dituding PKI (Partai Komunis Indonesia) sebagai sekumpulan perwira tinggi Angkatan Darat yang tidak loyal kepada pemerintahan Soekarno atau Bung Karno. Bahkan PKI menuding Dewan Jenderal tengah menyiapkan kup atau kudeta.

Berdalih untuk menyelamatkan Presiden Soekarno, PKI kemudian mengambil langkah dengan membentuk Dewan Revolusi dan meletuslah peristiwa G30S PKI. Lantas kapan isu Dewan Jenderal mulai muncul?

Dalam buku Jenderal Yoga Loyalis di Balik Layar (2018) disebutkan, isu Dewan Jenderal muncul usai Bung Karno mengemukakan pernyataan tentang rencana Nekolim (Neo Kolonialisme) yang hendak membunuhnya.

Tidak hanya dia. Menteri Luar Negeri merangkap Kepala Badan Pusat Intelijen (BPI) Subandrio dan Panglima Angkatan Darat Ahmad Yani juga dikatakan Bung Karno menjadi sasaran pembunuhan.

Soekarno mengucapkan pernyataan itu pada 28 Mei 1965 atau empat bulan sebelum peristiwa G30S PKI.

“Sejak pernyataan Presiden Soekarno itu, beredar desas-desus di Jakarta mengenai adanya Dewan Jenderal yang anggotanya terdiri atas sejumlah perwira tinggi AD yang tidak loyal kepada Bung Karno,” demikian dikutip dari Jenderal Yoga Loyalis di Balik Layar.

Dalam waktu cepat desas-desus tentang adanya Dewan Jenderal yang tidak loyal kepada Bung Karno meluas. Rumor yang tidak diketahui ujung pangkalnya itu dikaitkan dengan isu penemuan dokumen Gilchrist.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement