Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kesaksian Oma Tintang di Malam Tertembaknya Ade Irma pada September 1965

Subhan Sabu , Jurnalis-Sabtu, 07 Oktober 2023 |05:18 WIB
Kesaksian Oma Tintang di Malam Tertembaknya Ade Irma pada September 1965
Oma Tintang dengan foto Ade Irma/Foto: Pribadi
A
A
A

 

JAKARTA – Peristiwa berdarah di rumah Jenderal Abdul Haris Nasution di Jalan Teuku Umar 40, Menteng, Jakarta Pusat, lekat di ingatan Alpiah Makasebape (83) alias Oma Tintang.

Omah titang adalah pengasuh Ade Irma, anak AH Nasution yang tewas diberondong peluru pasukan Tjakrabirawa. Ade irma jadi korban salah sasaran yang terjadi di malam keji itu.

 BACA JUGA:

Kala diwawancara pada medio 2020, Oma Tintang masih dapat merunut dengan jelas peristiwa yang berlangsung 55 tahun silam itu.

Saksi hidup sejarah kelam keganasan Gerakan 30 September atau yang lebih dikenal dengan sebutan G30S/PKI itu menjadi cerita lama yang membuat wanita tua asal Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara itu mengalami trauma yang mendalam.

 BACA JUGA:

Oma Tintang sempat dipanggil oleh tim forensik untuk mengenali mayat Kapten Pierre Tendean usai dikeluarkan dari Lubang Buaya. Pierre Tendean adalah ajudan AH Nasution.

Perjalanan Oma Tintang sehingga menjadi pengasuh Ade Irma Suryani Nasution cukup panjang. Lahir di Tamako, 25 Desember 1936, di usia muda dia meninggalkan pekerjaannya sebagai perawat di Rumah Sakit Umum Liun Kendage, Tahuna dan memilih merantau meninggalkan kampung halaman.

Sebelum merantau ke Jakarta, Oma Tintang sempat menetap di Tahuna, Manado dan Makassar. Di Jakarta dia bergabung dengan Yayasan Tilaar yang menampung serta menyalurkan tenaga-tenaga perawat handal.

Setelah Ade Irma lahir 19 Februari 1960, selang dua minggu kemudian istri Nasution, Johana Sunarti Nasution datang ke Yayasan Tilaar untuk mencari calon pengasuh buat Ade Irma. Terpilihlah Oma Tintang yang saat itu masih sangat muda.

"Saya sendiri tidak percaya karena dari sekian banyaknya perawat rumahan, saya yang tidak terlalu lancar berbahasa Indonesia yang akhirnya dipercayai menjadi pengasuh Ade Irma," ujar Oma Tintang, Rabu (30/9/2020).

Namun, keraguan itu perlahan sirna melihat kebaikan hati Johana, serta jiwa mengayomi dari Jenderal Nasution saat dia mulai bertugas, membuat kepercayaan dirinya muncul. Dia pun menjadi sangat akrab dengan Keluarga Nasution, termasuk putri pertama mereka, Hendrianti Sahara dan Lettu Czi Pierre Andries Tendean, ajudan Nasution.

“Saya merasa bangga karena bisa menjaga anak perempuan yang sudah saya anggap sebagai putri sendiri,” kata dia

 BACA JUGA:

Oma Tintang mengakui bahwa sebenarnya nama Ade tidak ada, nama Ade merupakan panggilan kesayangan pemberiannya kepada Irma Suryani Nasution

Dia juga mengakui sebelum Ade Irma meninggal, ia sudah mendapati firasat buruk kepada putri bungsu sang jenderal. Kadang suka menangis tanpa sebab dan juga tidak suka makan.

 BACA JUGA:

Usai kejadian penculikan, dia sempat membawa Ade Irma ke rumah sakit. Namun dalam perjalanan ia mengaku turun dari mobil untuk melaporkan kejadian nahas itu. Dia kemudian pergi ke markas Marinir untuk melaporkan kejadian yang terjadi di rumah Jenderal Nasution.

Tahun 1969 dia memilih pulang ke kampung halamannya. Komunikasi dengan keluarga Nasution masih tetap terjaga. Kenang-kenangannya berupa foto bersama keluarga Nasution masih tersimpan rapi. Begitu juga dengan kalung milik almarhumah Ade Irma yang diberikan kepadanya masih tersimpan dengan baik sampai sekarang.

(Nanda Aria)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement