Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Peristiwa 12 Oktober: Hari Museum Indonesia

Fakhrizal Fakhri , Jurnalis-Kamis, 12 Oktober 2023 |04:00 WIB
Peristiwa 12 Oktober: Hari Museum Indonesia
Museum Gajah (Foto: MPI)
A
A
A

JAKARTA - Hari Museum Indonesia diperingati setiap 12 Oktober. Museum menjadi salah satu sarana bagi masyarakat untuk rekreasi atau hiburan hingga kepentingan edukasi serta penelitian. Selain itu, museum juga difungsikan untuk penyimpanan, perawatan, pengamanan, pemanfaatan, serta pelestarian hasil budaya.

Okezone pun berkesempata mengunjungi salah satu museum di Jakarta, yaitu Museum Nasional atau dikenal juga dengan nama Museum Gajah di Jalan Merdeka Barat 12, Jakarta Pusat.

Di Museum Nasional terdapat banyak koleksi benda-benda bersejarah yang unik. Salah satunya adalah Patung Nenek Moyang hasil kebudayaan Masyarakat Tanimbar.

Patung yang terletak di Ruang Etnografi Indonesia Museum Nasional ini, diletakkan di sudut ruangan. Karena itu, kesan yang ditimbulkan menjadi misterius, namun tetap unik untuk dilihat.

Masyarakat di Kepulauan Tanimbar, Kepulauan Maluku memang memiliki seni ukir sejak dahulu dan diwariskan ke generasi berikutnya. Biasanya, ukiran-ukiran yang bernilai sakral dijumpai pada perahu-perahu, seperti belang dan kora, serta patung-patung leluhur yang memiliki nilai magis, termasuk Patung Nenek Moyang di Museum Nasional ini.

Patung leluhur berwarna coklat ini digambarkan duduk dan diberi penghormatan dengan memasukkan unsur kursi sebagai simbol status yang tinggi. Patung nenek moyang ini nampak sedang duduk sambil mengangkat sebuah guci dan dikelilingi enam patung 6 patung kecil dalam posisi yang sama.

Di bagian belakang patung nenek moyang nampak sebuah tangga yang berdiri tegak hingga hampir menyentuh langit-langit museum. Di daerah asalnya, biasanya patung untuk mengenang individu yang sudah meninggal ini pada bagian mata dan giginya dihias dengan kulit kerang.

Selain itu, pada desa-desa di Kepulauan Tanimbar, patung-patung seperti ini biasanya ditempatkan di sebuah altar ruang terbuka sebagai tempat pemujaan. Uniknya, altar tersebut diukir dalam bentuk perahu yang terbuat dari batu atau kayu.

Selain Patung Nenek Moyang hasil kebudayaan Masyarakat Tanimbar, ada koleksi lain yang menarik perhatian. Koleksi Museum Nasional tersebut adalah patung raja terakhir Kerajaan Cakranegara, Lombok.

Terletak di Ruang Etnografi Indonesia, patung ini menggambarkan sosok Raja Ratu Agung Agung Gede Ngurah Karangasem. Patung ini terlihat begitu menarik, dalam posisi duduk di kursi kayu dengan kaki kanan diangkat bersandar di paha kaki kiri.

Mimik wajah patung hasil karya Gede Bem ini juga terlihat sangat natural. Dengan tangan kanan mengepal, mimik Raja Ratu Agung Agung Gede Ngurah Karangasem seperti sedang geram.

Patung dengan rambut hanya di dua sisi kepala ini menyorot tajam ke depan. Kedua alis yang naik dan bibir berlipat mengisyaratkan penggambaran sosok yang tegas.

Sementara itu, penampilan Raja Ratu Agung Agung Gede Ngurah Karangasem juga cukup unik. Patung ini mengenakan baju seperti blazer hitam dan dalaman kemeja putih. Selain itu, patung ini memakai celana pendek bermotif kotak-kotak merah.

Terlepas dari penampilan patung ini yang menarik, ternyata juga ada sejarah di belakangnya. Setelah kerajaannya hancur pada pertempuran di Cakranegara, Lombok Barat, Raja Ratu Agung Agung Gede Ngurah Karangasem ditawan Belanda dan diasingkan ke Batavia pada 1894, tepatnya di daerah Tanah Abang.

Baru setahun dalam pengasingannya di Batavia, Raja Ratu Agung Agung Gede Ngurah Karangasem akhirnya meninggal dunia. Menurut sejumlah sumber sejarah, jenazahnya dimakamkan di Karet.

Selain Patung Raja Lombok dan Nenek Moyang hasil kebudayaan Masyarakat Tanimbar, di Museum Nasional masih memiliki banyak koleksi lain, termasuk prasasti. Prasasti-prasasti di Museum Nasional tak hanya bernilai sejarah, tetapi juga memiliki bentuk unik.

Ada tiga prasati Mulawarmman di Museum Nasional dengan bentuk yang berbeda. Namun, ketiga prasasti berupa batu dan sama-sama ditemukan pada awal tahun 5 Masehi. Dua prasasti ujungnya terlihat runcing dan satu lainnya pipih. Berikut prasasti-prasasti unik di Museum Nasional:

Prasasti Baru

Patung berbentuk prisma ini berisi tentang penganugerahan desa Baru sebagai daerah otonom oleh Sri Mahakramattunggadewa. Prasasti ini berasal dari Surabaya, Jawa Timur dan ditemukan tahun 1030 Masehi. Isi pesan dalam prasasti ini diukir dalam huruf dan bahasa Jawa kuno.

Prasasti Tumpang

Prasasti ini berasal dari daerah Tumpang, Malang, Jawa Timur. Keunikannya, prasasti ini cukup besar dan menggunakan isi pesan berhuruf tipe Kadiri, serta bahasa Jawa kuno. Prasasti ini ditemukan pada tahun 1179 Masehi.

Prasasti Tulang Air

Prasasti berbentuk seperti nisan makam ini berasal dari Candi Perot, Temanggung, Jawa Tengah. Prasasti yang isi pesannya menggunakan bahasa dan huruf Jawa kuno ini ditemukan pada 851 Masehi.

Prasasti Getas

Prasasti ini berbentuk dan berwarna sangat unik. Bentuknya persegi panjang, namun tidak rata pada sisinya dan berwarna cream pucat. Prasasti ini berasal dari Getas, Ngawi, Jawa Timur. Sama seperti prasasti sebelumnya, isi pesan yang terukir pada Prasasti Getas juga menggunakan bahasa dan huruf Jawa kuno. Prasasti Getas ini ditemukan pada 1317.

Prasasti Kawambang Kulwan

Prasasti ini berisi tentang peresmian desa Kawambang Kulwan menjadi daerah otonom untuk keperluan bangunan suci. Selain itu, ada penyebutan kitab Siwasasana, yaitu kitab hukum untuk para pendeta Siwa. Prasasti yang berasal dari Sendang Kamal, Maospati, Jawa Timur ini menggunakan bahasa dan huruf Jawa kuno.

Prasasti-prasasti tersebut bisa Anda jumpai di Ruang Arca Museum Nasional. Sebagian besar prasasti berada di halaman bersama arca-arca yang juga sangat unik.

(Fakhrizal Fakhri )

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement