Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Heroik Kiai dan Santri Berjuang Usir Penjajah, Resolusi Jihad Berkumandang

Qur'anul Hidayat , Jurnalis-Minggu, 22 Oktober 2023 |06:04 WIB
Kisah Heroik Kiai dan Santri Berjuang Usir Penjajah, Resolusi Jihad Berkumandang
Hari Santri 2023. (Foto: Ilustrasi/Dok Ist)
A
A
A

SETIAP 22 Oktober seluruh santri di Indonesia memperingati Hari Santri Nasional. Pada Hari Santri 2023, tema yang diusung adalah "Jihad Santri Jayakan Negeri".

Peringatan Hari Santri tak lepas dari perjuangan para Kiai dan Santri untuk bangsa dan negara. Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, rupanya bangsa penjajah tidak tinggal diam. Inggris bergandengan dengan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ingin kembali menguasai Indonesia yang telah diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945.

 BACA JUGA:

Melihat hal itu, Umat Islam tidak tinggal diam. Pendiri Nahdhatul Ulama Hadratus Syech KH. Hasyim As’ari bersama para kyai dan santri perwakilan NU di seluruh Jawa dan Madura menyerukan jihad melawan penjajah. Deklarasi itu terjadi pada tanggal 22 Oktober 1945. Belakangan deklarasi itu populer dengan istilah Fatwa Resolusi Jihad.

Selanjutnya setelah tanggal 22 Oktober 1945 para Kyai dan Santri mulai bergerak dan berdatangan ke Surabaya sebagai bentuk perlawanan terhadap pasukan Inggris dan NICA yang datang.

BACA JUGA:

Hari Santri 2023, Jutaan Warga Nahdliyin Gelar Kirab dari Banten hingga Surabaya 

Seruan jihad yang dikumandangankan dari masjid ke masjid, dari musala ke musala. Bung Tomo pada tanggal 24 Oktober 1945 berpidato di Radio berpesan kepada arek-arek Surabaya agar jangan berkompromi dengan sekutu yang akan datang ke Surabaya.

Penyebaran Resolusi Jihad tersebut dengan suka cita disambut penduduk surabaya dengan berapi-api untuk melawan kembalinya penjajah.

Melalui Resolusi Jihad seruan perang suci yang diteriakkan untuk melawan penjajah yang ingin berkuasa kembali, yang membakar semangat Kiai dan Santri serta arek-arek Surabaya untuk menyerang Markas Brigade 49 Mahratta pimpinan Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby pada tanggal 27, 28, 29 Oktober 1945. Pada saat itu Jenderal Mallaby tewas bersama pasukannya.

Akibat dari serangan 3 hari tersebut meletuslah perang 10 November 1945, peperangan sengit antara pasukan Inggris yang berhadapan dengan masyarakat pribumi yang didominasi oleh Kiai dan Santri.

Ribuan Pahlawan gugur, darah berceceran di Surabaya dan perang sekitar 3 minggu tersebut dicatat sebagai perang terbesar sepanjang sejarah Nusantara. Peristiwa 10 November 1945 kemudian populer dengan sebutan Hari Pahlawan.

(Qur'anul Hidayat)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement