Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Menjaga Warisan Nenek Moyang dengan Biosolar di Laut Jawa

Taufik Budi , Jurnalis-Minggu, 05 November 2023 |21:51 WIB
Menjaga Warisan Nenek Moyang dengan Biosolar di Laut Jawa
Menjaga warisan nenek moyang dengan biosolar di Laut Jawa. (Taufik Budi
A
A
A

Penuturan serupa disampaikan Eko Woto. Pria berusia 48 tahun itu mengaku sejak remaja menjadi nelayan mengikuti jejak orang tuanya. Dia mengaku sudah mafhum karakter Laut Jawa yang tiap hari diarungi dengan kapal sopek buatan warga Demak.

Meski dengan penghasilan tak pasti, namun menjadi nelayan seolah tak bisa dihindari warga bagi pesisir seperti dirinya. Apalagi, jika cuaca buruk mereka tetap harus menerjang lautan agar asap dapur bisa mengepul.

“Memang kalau bicara masalah penghasilan ya enggak tentu. Tapi kalau pas banyak itu ya sangat menggembirakan. Ya campur-campur dapatnya, ada cumi, ikan, serimping,” ungkapnya.

Lautan dan menangkap ikan sangat akrab dengan kesehariannya. Termasuk lokasi-lokasi yang biasanya terdapat banyak ikan. Untuk pembagian hasil, mereka mengikuti tradisi yang sudah berjalan bertahun-tahun.

“Kalau tradisi di sini, setelah ikan tangkapan di laut dijual hasilnya kita bagi. Pembagiannya begini, pertama dikurangi dulu untuk biaya bahan bakar biosolar, lalu operasional makan dan lain-lain. Setelah itu dibagi dua, satu untuk pemilik kapal, dan sisanya kita bagi untuk nelayan yang ikut di kapal itu. Misalnya ada 2 nelayan ya dibagi 2, kalau tiga ya dibagi 3,” beber dia.

760 Kapal Nelayan

SPBUN Mojo menyuplai sekitar 300 kiloliter biosolar per bulan untuk 760 kapal nelayan di Mojo dan Ketapang. Biosolar tersebut dipasok dari PT Pertamina Fuel Terminal Tegal sekira 13 kiloliter per hari. Fuel Terminal Tegal menyediakan biosolar kepada 8 SPBUN di Kabupaten Pemalang hingga Brebes dengan kebutuhan sekitar 100 kiloliter per hari.

Menjaga warisan nenek moyang dengan biosolar di Laut Jawa. (iNews/Taufik Budi)

“Sejak awal penyaluran pada 2018 di SPBUN Mojo itu kita sudah biosolar, jadi lebih ramah lingkungan untuk menjaga kelestarian alam di wilayah laut,” kata Sales Branch Manager Rayon II Tegal PT Pertamina Patra Niaga, Ahmad Fernando.

“Di Mojo rata-rata penjualan BBM (bahan bakar minyak) di sini itu sekitar 11-13 kiloliter per harinya, itu untuk melayani sekitar 760-an kapal,” imbuhnya.

Dia memastikan distribusi BBM subsidi berupa biosolar bagi nelayan di Kabupaten Pemalang terlaksana sesuai dengan kuota yang ditetapkan. Sistem monitoring pencatatan ditingkatkan secara digital dengan penggunaan barcode dari surat rekomendasi yang dikeluarkan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP).

Transaksi di SPBUN menggunakan barcode yang mencantumkan kuota sesuai surat rekomendasi. Jika kuota habis, nelayan dipersilakan untuk mengurus surat rekomendasi lagi agar bisa mendapatkan BBM. Di luar transaksi menggunakan barcode, SPBUN dilarang menyalurkan BBM kepada orang yang tidak memiliki surat rekomendasi.

Kuota penyaluran BBM subsidi oleh Pertamina dan SPBUN telah ditentukan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas). Kabupaten Pemalang memiliki tiga SPBUN yang tersebar di sepanjang pesisir pantai, yaitu di Tanjungsari, Mojo, dan Asemdoyong. Dari ketiga SPBUN ini, tercatat bahwa mereka melayani sekitar 13.000 kapal yang tersebar di Kabupaten Pemalang.

“Saat ini kebutuhan biosolar nelayan di Kabupaten Pemalang sudah terlayani dengan baik. Realisasi dibanding dengan kuota sejak Januari hingga September 2023 itu hanya tercatat 90 persen. Artinya kuota (BBM) yang sudah disampaikan ke SPBUN sudah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan nelayan di Kabupaten Pemalang,” jelasnya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement