Indonesia ditunjuk menjadi tuan rumah Piala Dunia U-17 pada 23 Juni 2023, menggantikan Peru. Bisik bisik keras terdengar, penunjukan tersebut sebagai kompensasi setelah FIFA membatalkan status Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Pembatalan dilakukan setelah muncul resistensi dari masyarakat karena kehadiran timnas Israel.
Penolakan masyarakat tidak sekadar adanya rasa ikatan emosional dan sejarah tapi juga adanya kesepahaman bahwa tindakan Israel di Palestina merupakan bentuk penjajahan. Dan, Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 pada alenia pertama dengan jelas mengatakan
“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa, oleh sebab itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan pri kemanusiaan dan pri keadilan.”
Selain UUD 1945, hubungan Indonesia dan Israel juga diatur dalam Peraturan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (PERMENLU) Nomor 3 tahun 2019 tentang Panduan Umum Hubungan Luar Negeri oleh Pemerintah Daerah. Pada Bab X mengenai Hubungan RI-Israel di pasal 150, tertera bahwa Indonesia tak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel dan menentang penjajahan Israel atas wilayah dan bangsa Palestina.
Pasal 151 ayat 2, disebutkan bahwa Indonesia tidak menerima delegasi Israel secara resmi dan ditempat resmi. Kemudian di ayat 3, tertulis bahwa tak adanya izin penggunaan bendera, lambang, atribut dan pengumandangan lagu kebangsaan Israel di wilayah Indonesia. Pengibaran bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan Israel tidak bisa dihindari. Law of the game FIFA bahwa sebelum pertandingan dimulai akan ada pengibaran bendera dan lagu kebangsaan.
Penolakan kemudian meluas, hingga akhir FIFA mencabut status Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 dan memberikannya kepada Argentina. Putusan itu memunculkan pro dan kontra di masyarakat. Ada yang lega dengan keputusan FIFA tapi tidak sedikit merasa tak seharusnya sepak bola dicampuradukkan politik dengan sepak bola.
Masalahnya, sepak bola dan olahraga tak pernah bisa dilepaskan dari politik. Pemisahan Isrel dan Palestina dalam dua kubu Eropa dan Asia adalah bukti nyata. Federasi sepak bola Asia menolak Israel karena kekejamannya pada Palestina, sehingga negara zionis itu bisa bergabung eropa di bawah UEFA.
Melihat apa yang terjadi di jalur Gaza sekarang, seolah menjadi jalan lain menyelematkan Indonesia dari peta konflik horizontal masyarakat antara pro dan anti-Israel. Mungkin tidak akan ada Aksi Damai Bela Palestina di Monas yang dihadiri jutaan orang sebagai respons serangan Israel ke jalur Gaza sebagai respons aksi "genosida" Israel yang membuat lebih dari 10 ribu orang meninggal, karena masyarakat masih terbela antara Pro dan AntiPiala Dunia U-20.
Mulai Jumat (10/11) sampai 10 Desember mendatang, mari menikmati Piala Dunia U-17 dan memberikan dukungan pada skuad Garuda dan Palestina di dalam stadion. Ketua PSSI Erick Tohir telah mengizinkan pengibaran bendera Palestina di stadion sebagai bentuk dukungan pada negara yang sekarang berjuang melawan invasi Israel. Selamat bertanding, Bikin Bangga Bangsa!
(Maruf El Rumi)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.