INFORMASI Menteri Penerangan Amir Syarifuddin mengenai adanya tentara Inggris yang tiba di Surabaya untuk mengangkuti tentara Jepang, tak langsung dipercaya Bung Tomo. Sebab tentara-tentara Inggris sebenarnya lebih dahulu memasuki Indonesia pada 15 September 1945 bersama sekutunya di Jakarta.
Di sisi lain, tentara Jepang yang telah menyerah pasca proklamasi kemerdekaan dilucuti persenjataannya oleh pejuang Indonesia, termasuk di Surabaya. Memang, pasca proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, pergolakan peperangan di nyaris seluruh daerah di Indonesia masih terjadi, demi mempertahankan kemerdekaan.
Maka, ketika ada pasukan Inggris yang masuk ke Surabaya, Menteri Penerangan konon meminta Bung Tomo dan pasukannya untuk menghormati dan menyambut baik kedatangan sekutu di Surabaya, seperti halnya di Jakarta. Namun, oleh Bung Tomo dan rakyat Surabaya ajakan Menteri Penerangan Amir Syarifuddin itu ditolak mentah-mentah.
Dikisahkan pada buku "Bung Tomo Hidup dan Mati Pengobar Semangat Tempur 10 November" karya Abdul Waid, Bung Tomo adalah orang pertama yang tidak percaya terhadap apa yang disampaikan oleh pemerintah pusat.
Karena itu, ia mengajak semua orang Surabaya untuk berhati-hati seraya mencurigai kedatangan Inggris sebagai usaha membantu mengembalikan kolonialisme Belanda di Indonesia.
Kecurigaan Bung Tomo dan kawan-kawannya bukannya tanpa alasan, pasalnya sebelum Kolonel P.J.G Huijer perwira tentara sekutu berkebangsaan Belanda yang datang di Surabaya pertama kali pada tanggal 23 September sebagai utusan Laksamana Pertama Paterson, yang notabene Pimpinan Angkatan Laut Sekutu di Asia Tenggara.
Ternyata, kedatangan perwira Belanda ini membawa misi rahasia dari pimpinan tertinggi angkatan laut Kerajaan Belanda.
Di Surabaya, secara terang-terangan Huijer menentang revolusi yang dikobarkan para pejuang Indonesia. Sikap Huijer bahkan memancing kemarahan para pejuang di Surabaya, alhasil Huijer ditangkap dan ditahan oleh aparat keamanan Indonesia di penjara Kalisosok Surabaya.
Bahkan pada saat menjelang kedatangan tentara Inggris di Surabaya, Drg. Moestopo, rekan Bung Tomo yang saat itu telah mengangkat diri menjadi menteri pertahanan mengajak rakyat Surabaya bersiap-siap untuk melakukan peperangan dengan pasukan Inggris. Rakyat Surabaya diajak untuk bersiaga menyambut kedatangan tentara Inggris dengan senjata.