Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Khianati Penguasa Mataram, Bupati Surabaya Dihukum Mati

Avirista Midaada , Jurnalis-Sabtu, 18 November 2023 |06:30 WIB
 Khianati Penguasa Mataram, Bupati Surabaya Dihukum Mati
Illustrasi (foto: dok freepik)
A
A
A

PEMERINTAH Mataram betul-betul dibuat kerepotan oleh perjanjian baru dengan VOC Belanda. Saat itu raja yang berkuasa konon Pakubuwana dilematis harus menjalankan seiring penandatanganan kerjasama oleh Sultan Amangkurat III.

Dimana di perjanjian itu, Mataram harus menebus utang perang Trunojoyo sebesar 2,5 gulden. Sementara perjanjian baru, berisi kewajiban Kartasura untuk mengirimkan 13.000 ton beras setiap tahunnya selama 25 tahun.

Rangkaian perjanjian itu membuat pemerintahan Mataram di masa Pakubuwana tersandera dan terpaksa menghukum mati sang tim suksesnya. Hukuman ini diberikan karena pihak VOC menemukan bukti bahwa Bupati Surabaya Adipati Jangrana berkhianat dalam perang melawan Untung Surapati tahun 1706, sebagaimana dikutip dari "Babad Tanah Jawi" tulisan Soedjipto Abimanyu.

Hukuman mati diberikan semasa Pakubuwana I atau Pangeran Puger bertahta di Kerajaan Mataram. Sosok Jangrana juga konon membantunya naik tahta di Mataram. Sosok Pangeran Puger I naik tahta menjadi raja di Kasunanan Kartasura yang ketiga dari tahun 1704 - 1719, yang bergelar Pakubuwana I.

Nama aslinya Raden Mas Drajat, ia lahir dari permaisuri keturunan keluarga Kajoran, yaitu sebuah cabang keluarga keturunan Kesultanan Pajang. Mas Drajat pernah diangkat menjadi putra mahkota menggantikan kakaknya, yaitu Mas Rahmat yang berselisih dengan ayah mereka Amangkurat I.

Hukuman mati ke Bupati Surabaya oleh Pakubuwana I pada tahun 1709 karena dinilai berkhianat saat berperang melawan Untung Surapati tahun 1706. Pasca penghukuman mati Sang Bupati Surabaya Adipati Jangrana ini digantikan oleh adiknya bernama Jayapuspita sebagai Bupati Surabaya. Pada tahun 1714, Jayapuspita menolak menghadap Kartasura dan mempersiapkan pemberontakan.

Pada tahun 1717, gabungan pasukan Kartasura dan VOC bergerak menyerbu Surabaya. Peristiwa peperangan ini konon terjadi lebih mengerikan daripada perang di Pasuruan terdahulu, semasa Untung Surapati. Jayapuspita akhirnya kalah dalam peperangan ini, ia terpaksa menyingkir ke Japan, sekarang Mojokerto pada tahun 1718.

Sunan Pakubuwana I ini meninggal dunia pada tahun 1719. Sepeninggalnya, tahta raja Mataram di istana Kartasura beralih ke putranya yang bergelar Amangkurat IV. Pemerintahan Amangkurat IV ini kemudian dihadapkan pada pemberontakan oleh saudara - saudaranya sesama putra Pakubuwana I. Mereka yang memberontak mulai Pangeran Blitar, Pangeran Purbaya, dan Pangeran Diponegoro Madiun.

(Awaludin)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement